Ketika “Pohon Sukarno” Hijaukan Makkah

Ketika “Pohon Sukarno” Hijaukan Makkah

Catatan Yurnaldi

Sulit membayangkan hari ini, ketika payung raksasa, pendingin udara, dan deretan pohon peneduh mengiringi langkah jamaah. Namun Makkah pernah—dan lama—menjadi kota yang keras bagi tubuh manusia. Panas menyengat, tanah berbatu, dan hampir tanpa teduh. Pada masa itu, ibadah haji bukan hanya ujian spiritual, tetapi juga ujian fisik yang nyata.

02601 pohon sukarno b

Di tengah kondisi itulah, pada pertengahan abad ke-20, muncul kesadaran baru di Tanah Suci: bahwa memuliakan ibadah berarti juga memuliakan manusia yang menjalankannya. Arab Saudi mulai menata ulang penyelenggaraan haji—bukan hanya pada aspek ritual, tetapi juga keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan jamaah.

Salah satu ikhtiar paling simbolik dari perubahan itu adalah penghijauan.

Pada dekade 1950-an hingga 1960-an, pemerintah Arab Saudi mulai menanam pohon-pohon peneduh di titik-titik strategis: jalur pejalan kaki, sekitar Masjidil Haram, Mina, Arafah, dan Muzdalifah. Pohon yang dipilih adalah tanaman tahan panas, berakar kuat, dan minim kebutuhan air—di antaranya pohon mimba (neem) dan jenis pohon gurun lain yang mampu bertahan di suhu ekstrem.

Di titik sejarah inilah nama Presiden Sukarno kerap disebut dalam ingatan jamaah Indonesia. Sukarno dikenal memiliki perhatian besar pada nasib jamaah haji dari negeri-negeri jauh, termasuk Indonesia yang menjadi salah satu pengirim jamaah terbesar dunia. Ia melihat haji bukan hanya sebagai rukun Islam, tetapi juga peristiwa kemanusiaan massal yang menuntut perlindungan negara-negara Muslim.

Sejarah memang tidak mencatat secara teknis bahwa Sukarno membawa langsung bibit pohon dari Indonesia. Namun sejarah mencatat kehadiran diplomasi kemanusiaan: dialog, dorongan, dan kesadaran kolektif bahwa jamaah harus dilindungi dari panas yang mematikan. Maka kisah tentang “pohon Sukarno” hidup sebagai simbol—bukan klaim botani, melainkan penanda partisipasi Indonesia dalam peradaban haji modern.

BACA JUGA  BDI Padang Gelar Diklat 3in1 di X Koto Diatas

Seiring waktu, penghijauan itu berkembang. Pohon-pohon yang awalnya hanya berfungsi sebagai peneduh alami kemudian menjadi bagian dari sistem besar pengelolaan haji. Pemerintah Saudi menata lanskap kota, menambah jalur hijau, memperluas ruang teduh, dan mengintegrasikannya dengan teknologi modern. Pepohonan tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari desain kota suci.

Hari ini, manfaatnya terasa nyata.

Di jalur thawaf, sa’i, dan jalan-jalan sekitar Masjidil Haram, jamaah bisa merasakan penurunan suhu mikro di area yang ditumbuhi pepohonan. Di Mina dan Arafah, pohon peneduh membantu mengurangi paparan panas langsung, terutama bagi jamaah lansia. Di sela-sela ibadah, jamaah menemukan tempat bernafas—secara harfiah dan batiniah.

Bagi jamaah umrah yang datang sepanjang tahun, pepohonan memberi jeda di antara ritual. Di bawah rindangnya, jamaah duduk, minum, berdoa, atau sekadar memulihkan tenaga. Ia menjadi ruang transisi antara gerak ibadah dan ketenangan batin.

Manfaat lain yang jarang disadari adalah fungsi ekologisnya. Pohon membantu menahan debu, memperbaiki kualitas udara, dan mengurangi silau panas dari permukaan batu. Di kota yang menampung jutaan manusia dalam waktu bersamaan, fungsi kecil ini memiliki dampak besar.

Namun yang paling penting, pohon-pohon itu membawa pesan peradaban. Ia menandai pergeseran cara umat Islam memaknai ibadah haji: dari sekadar ketahanan fisik menuju kepedulian terhadap keselamatan dan martabat manusia. Ibadah tidak lagi dipahami sebagai penderitaan yang harus dibiarkan, tetapi sebagai pengabdian yang tetap harus dilindungi.

Di situlah kisah Sukarno menemukan tempatnya. Benar atau tidak ia membawa benih, yang lebih penting adalah semangat yang ia wakili: bahwa ibadah tidak boleh mengabaikan kemanusiaan. Bahwa negara, pemimpin, dan umat memiliki tanggung jawab kolektif terhadap jamaah. sukarno sukarno

BACA JUGA  Ditimpa Pohon Saat Angin Kencang, Wanita 62 Tahun di IX Koto Sungai Lasi Meninggal Dunia

Pohon-pohon di Makkah hari ini berdiri tanpa papan nama, tanpa prasasti, tanpa klaim jasa. Ia hanya memberi teduh. Dan barangkali, justru di situlah letak kemuliaannya.

02601 pohon sukarno a

Di bawah naungannya, jutaan jamaah haji dan umrah menapaki ibadah dengan sedikit lebih ringan—langkah yang lebih tenang, napas yang lebih lega, dan doa yang lebih khusyuk. Sebatang pohon tidak mengubah rukun ibadah, tetapi ia menjaga manusia agar mampu menunaikannya.

Dan mungkin, itulah bentuk ibadah peradaban yang paling sunyi, tetapi paling nyata.

Baca juga :

Facebook Comments

Google News