Covid-19 “Sembelihan Kurban” dari Wuhan (2)

covid

Covid-19 “Sembelihan Kurban” dari Wuhan (2)

Oleh: Arifuddin M. Arif, (Dosen IAIN Palu)

Tradisi kurban pada hari raya Idul Adha pada prinsipnya memiliki dua dimensi, yaitu dimensi ibadah-spiritual dan dimensi ibadah-sosial. Dimensi ibadah-spiritual dalam tradisi kurban berupa bentuk ketaatan hamba kepada Tuhannya. Ketaatan itu harus dilandasi dengan rasa ikhlas sepenuhnya, sehingga kita menjadi dekat dengan Allah Swt. Sedangkan dimensi sosial berupa membangun sikap empati, kepekaan, solidaritas, dan kesetiakawanan sosial terhadap makhluk Allah Swt. secara dekat.

covid

Kurban, merupakan lambang kerelaan seseorang hamba untuk bersedia mengorbankan segala apa yang dimilikinya untuk mengabdi kepada Allah dan membantu sesama secara ikhlas, sabar, dan taat, sebagai pengejewantahan terhadap rasa syukur atas pelbagai pemberian nikmat dan karunia Allah melalui shalat dan berkurban (Q.S. Al-Kautsar [108] :1-3).

Secara kontekstual, Q.S. Al-Kautsar [108] :1-3 dimaknai bahwa ibadah shalat adalah simbol penyerahan diri sepenuh hati untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Sedangkan berkurban menjadi simbol komitmen menyembelih sifat atau karakter kebinatangan yang ada dalam diri.

Berkurban bukanlah sekadar mengalirkan darah binatang ternak yang disembelih dan membagikan dagingnya kepada mustahik (yang berhak), namun ada penyertaan komitmen menundukkan hawa nafsu, tempat tumbuhkembang beberapa sifat-sifat kebinatangan. Sehingga, hal tersebut patut disembelih layaknya hewan ternak. Kalau tidak, ia dapat mengaburkan kejernihan hati, melumpuhkan nalar, mengacaukan akal pikiran dan menumpulkan ruh (spiritualitas).“Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (Q.S. al-A’raaf [7]: 179).

Covid-19, sejak kedatangannya dari Wuhan, bisa jadi sempat mengaburkan kejernihan hati, melumpuhkan nalar, mengacaukan akal, bahkan mengganggu zona spirtualitas kita. Mengapa demikian? Karena Covid-19 secara tiba-tiba hadir dengan karakter fisik bola meruncing, bergerak dengan senyap, bermutasi tanpa terlihat, menanamkan sifat kecurigaan antar sesama sehingga harus berjarak, menghalangi beribadah secara normal, melumpuhkan pergerakan sosial ekonomi, mengehentikan aktivitas pendidikan, menyiksa, membunuh, dan lain sebagainya.

Bentuk, sifat dan karakter Covid-19 di atas, secara eksistensial, tidak menutup kemungkinan telah ada di dalam diri kita jauh sebelum ia hadir di tengah-tengah kita. Di antara indikator manusia yang memiliki bentuk sifat dan karakter Covid-19 adalah pribadi yang berbentuk “bola runcing”. Karakternya menyerang secara tajam dan membahayakan tatanan kehidupan, baik individu, keluarga, sosial, maupun agama, bangsa dan negara. Ia terus bergerak bergerilya, senyap dan sunyi untuk mengacaukan sistem yang normal dengan penuh tendensius.

Selain itu, ia bermutasi secara massif menciptakan kegaduhan, permusuhan, dan provokasi sampai manusia saling curiga-mencurigai, berjarak, dan terbelah. Kehadirannya, di mana pun akan mengganggu, mengancan dan membahayakan keselamatan manusia, bangsa, dan negara.

Idul Adha di masa new normal ini, menjandi new momentum (momentum baru) untuk mengevaluasi dan menormalisasi diri kita secara jernih dari warisan sifat dan karakter Covid-19. Kita kembali dekat mendekatkan diri kepada Allah melalui shalat dan berkurban. Oleh karena itulah, shalat dan pemotongan hewan kurban adalah dua pendekatan ber-taqarrub kepada Allah pada hari raya Idul Adha. Keduanya, adalah “protap” yang harus dipenuhi, terutama bagi orang-orang yang telah dianugerahi nikmat yang banyak.

Rasulullah Saw. tegas mengatakan: “Barangsiapa mendapatkan kelapangan tetapi tidak berkurban, maka janganlah dia mendekati tempat salat kami.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah). Namun, perlu diingat bahwa “Daging-daging hewan kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tanpa basis ketakwaan” (Q.S. al-Hajj [22]: 37). Wallahu A’lam.***

BACA JUGA :

 

Facebook Comments

loading...