Diduga Korupsi Dana Desa, Wali Nagari Taratak Ditahan Kajari Pesisir Selatan

dana
ilustrasi
SuhaNews – Wali Nagari Taratak, Kecamatan Sutra Kabupaten Pesisir Selatan ditahan Tim penyidik Kejari Pesisir Selatan. Ia diduga melakukan korupsi Dana Desa. 

“Tersangka dititipkan di Lapas Kelas II B Painan sebelum berkas perkara ini dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Padang,” kata Kasusbsi Ekonomi dan Keuangan, Kejari Pessel, Rahmat Syarief, Kamis (14/1) di Painan sebagaimana dilansir IndeksNews.com.

Penahanan dilakukan setelah penyidik dari Kejari Pessel memeriksa tersangka kasus korupsi dana nagari tahun 2019. Tersangka terbukti melakukan perbuatan yang merugikan keuangan negara sekitar Rp250 juta.

“Setelah dilakukan penyidikan oleh penyidik Pidsus Kejari Pessel. Sang Wali Nagari ini ditetapkan sebagai tersangka pada 7 Januari 2021 dan dilakukan penahanan sejak Rabu, 13 Januari 2021,” tambah Rahmat Syarief.

Kasus korupsi yang disangkakan kepada Wali Nagari ini terkait  dugaan penyalahgunaan ADD dan DD tahun 2019 tentang pembangunan jalan Pinang Baliria.

“Ditemukan kerugian negara kurang lebih Rp.250 juta,” ungkapnya.

Sebelum ditetapkan jadi tersangka, tim penyidik Pidsus Kejari Pessel telah melakukan penyelidikan, terhadap penggunaan anggaran DD dan ADD yang dikelola Nagari Taratak tahun 2019, dengan nilai anggarannya kurang lebih Rp.464 juta.

Ia menambahkan, dalam pengelolaannya terhadap pengerjaan jalan Pinang Baliriak ditemukan proyek tersebut banyak keganjalan.

Tersangka, kata Rahmat, diduga melanggar primer, Pasal 2 dan Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 dan Pasal 55 KUH Pidana, Subsidiair, pasal 3 Jo pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 dan pasal 55 KUHP.

Salah satu alasan penyidik melakukan penahanan terhadap Wali Nagari ini adalah hanya alasan subjektif yang menginginkan tersangka tidak mengulangi lagi perbuatannya.

BACA JUGA  Alami Gangguan Jiwa, Rumah Empat Bersuadara di Kota Solok Direhab

“Salah satu alasan penahanan tersangka, Ya sesuai dengan undang-undang boleh kami tahan. Kalau subjektifnya sebagai penyidik, kami khawatir jangan sampai tersangka mengulangi perbuatannya, sehingga kami tahan, “ungkapnya dengan tegas.

Diberitakan sebelumnya, pembangunan Jalan Pinang Baliriak di Nagari Taratak dinilai tidak sesuai spesifikasi. Hal itu terungkap dari Rencana Anggaran Biaya (RAB).

Pembangunan jalan nagari senilai Rp464 juta itu tidak sesuai ketentuan. Pelaksanaan kegiatan diduga tidak direalisasikan seluruhnya.

Diantaranya, terjadi kebocoran anggaran sekitar Rp181 juta. Adapun item kegiatan yang tidak tampak terlaksana adalah penimbunan sirtu dengan nilai Rp.105 juta.

Lalu, untuk pemasangan batu kali jembatan, Rp.32 juta. Plesteran jembatan Rp.1,2 juta dan perkerasan rabat beton dengan nilai Rp.42 juta.

Sebelumnya, Pendamping Desa Teknik Infrastruktur (PDTI) Sutera, Jumaidi membenarkan adanya beberapa item kegiatan yang tidak terlaksana dari kegiatan pembangunan Jalan Pinang Baririk itu.

“Sampai kini, pembangunan fisik di Nagari Taratak dinilai belum selesai dan, kami sudah melakukan langkah dan upaya teguran,” ujarnya.

PDTI, katanya sudah melakukan pendampingan sesuai perundang-undangan. Namun, saat ditegur wali nagari setempat tidak menggubris.

“Peringatan dan teguran kami tidak digubris, mau bagaimana lagi, kewenangan kami selaku pendamping batasannya hanya sampai disitu,” terangnya (*)

Baca juga:

Facebook Comments

loading...