Jakob Oetama, Dalam Kenangan
oleh Yurnaldi (mantan Wartawan Kompas)
Banyak teman-teman Kompas kaget ketika saya diterima Pak Jakob Oetama di ruang kerjanya, tahun 2011 silam. Betapa saya dulu tidak dikasih kesempatan untuk pamit dengan orangtua yang amat baik hati dan pemurah ini.

“Senior Anda saja yang sampai pensiun, bekerja 25-30 tahun, jarang yang bisa bertemu empat mata,” begitu senior itu mematahkan niat saya.
Bukan orang Minangkabau kalau tidak banyak aka(l) bagaimana menyiasatinya. Singkat cerita, Sekretaris Pak JO ingatkan saya, tak boleh lama-lama bicara dengan Pak JO, beliau sangat sibuk dan sudah tua. Peringatan itu saya iyakan saja. Prinsip orang Minang: iyokan nan di urang, laluan nan di awak.
Empat mata diskusi, nyaris tak memikirkan waktu. Pak JO benar benar paham karakter orang Minang. Beliau membuka kata menanyakan kabar saya dan keluarga. Lalu dia tidak membahas soal saya, tapi di balik peristiwa saya, Pak JO setelah cerita soal kedekatannya dengan tokoh tokoh bangsa dari Minang seperti Hatta, Natsir, dan lainnya sampai dengan Rosihan Anwar, Pak JO menyatakan kegelisahannya soal orang orang yang dipercayanya, soal orang orang di “meja tengah” yang dinilainya tidak menghargainya sebagai pendiri Kompas dan sebagai Pemimpin Umum. Saya jadi pendengar yang baik.
Lalu terucap kata, “Kalau saya tidak ada lagi, entah bagaimana nasib Kompas.” Saya kaget, kok tiba tiba orangtua ini curhat.
Saya berikan solusi atas keprihatinan dan kegamangan beliau soal masa depan Kompas. Beliau serius mendengar. “Supaya masa depan Kompas tidak seperti yang Bapak cemaskan, masukkan anak Bapak, mas Lilik ke dalam manajemen Kompas,” kata saya.
“Kan dia hanya tahu soal manajemen hotel, tidak paham manajemen media/Kompas,” sela Beliau.
“Mas Lilik akan bisa belajar sambil jalan. Yang penting masuk ke jajaran redaksi sebagai wakil Bapak, dia (mas Lilik) pasti akan belajar dengan Bapak dan teman teman di redaksi,” saya berusaha meyakinkan Pak JO.
“Oh, iya ya…you benar,” kata Pak JO
Pak JO tersenyum dan cerita lain tak mungkin saya paparkan dalam ruang terbatas ini.
Lebih satu jam saya di ruangan Pak JO.
Beliau panggil sekretaris, dan saya dikasih cek yang nilai nominalnya sempat jadi “gunjingan”. Setelah serahkan cek, beliau tepuk tepuk bahu saya, dan berkata, “You kalau ada apa apa, temui saya.'” Saya pikir ini sebuah garansi yang tak didapatkan teman teman wartawan lain. Alhamdulillah.
Beberapa waktu kemudian, saya cek boks pimpinan. Benar, mas Lilik Jakob sudah masuk sebagai wakil pemimpin umum. Saya bersyukur. Ternyata beliau orangtua yang juga mau mendengarkan dan menerima masukan.
Hari ini, orangtua yang baik hati dan juga amat santun dengan yang muda muda, telah berpulang. innalilahi wa innailaihi rojiun. Semoga Pak JO peroleh surga terbaik di sisiNya. Selamat berpulang ke pangkuanNya, Pak Jakob Oetama.
Pertemuan terakhir kali dengan Bapak sungguh terukir dalam hati dan tak mugkin terlupakan.
Tulisan Yurnaldi lainnya :
- Mengenal Yurnaldi, Sang Juara Lomba Menulis 110 Tahun PT Semen PadangPotensi Kota Solok Dalam Percaturan Industri Pariwisata
- Catatan Yurnaldi Paduka Raja : Beda Nasib Mal dan Pedagang Gerobak
- Potensi Kota Solok Dalam Percaturan Industri Pariwisata
- Padang Mangateh, Peternakan Unggul Sapi,New Zealand-nya Sumbar



Facebook Comments