Menulis adalah Panggilan Jiwa

Menulis adalah Panggilan Jiwa
Liustrasi, foto : istimewa

Menulis adalah Panggilan Jiwa

Oleh Hilda Hayati, S.Pd, (Guru Bahasa Indonesia, SMA Nurul Ikhlas, Panyalaian X Koto Tanah Datar)

Menulis, menulis, menulis, sungguh mudah diucapkan tetapi sulit untuk dilakukan. Ketika kertas sudah dibuka, pena sudah diselipkan di jari, tapi selang beberapa jam tak satupun kata yang tergoreskan. Hal ini sering kita rasakan dan kita alami. Bahkan hal ini terjadi berulang kali. Rasanya pikiran menjadi buntu. Semua ide hilang, padahal, sebelum pena di tangan banyak hal yang terpikir untuk dituliskan, tapi begitu berhadapan dengan kertas putih semuanya lenyap begitusaja.

Tentunya kondisi loss Idea tak mungkin kita biarkan terjadi terus menerus.  Zaman sekarang, setiap orang harus pandai menulis terutama guru. Untuk naik pangkat, guru harus membuat tulisan. Keprofesionalan guru juga ditandai dengan tulisannya. Guru tidak pandai menulis belum termasuk guru cerdas. Guru tidak pandai menulis belum termasuk guru yang kreatif.

Menulis, menulis, menulis semua guru harus pandai menulis. Semua kata-kata itu akan selalu menghantui setiap orang yang berprofesi sebagai guru. Hal ini  akan membuat guru pusing tujuh keliling. Namun dilain hal, desakan guru untuk menulis seharusnya menjadi motivasi terkuat bagi guru untuk mengembangkan kemampuan menulis yang sudah dimiliki sebelumnya.

Desakan guru untuk menghasilkan tulisan tidak serta merta dibiarkan begitu saja oleh pemerintah. Kegiatan guru menulis menjadi bagian dari agenda pemerintah gerakan literasi nasional. Gerakan ini diteruskan ke sekolah dengan program gerakan literasi sekolah. Harapan yang ingin dicapai tentu saja cakupan yang lebih luas. Tidak hanya guru, seluruh siswa dan warga sekolah lainnya dapat menjadi pribadi yang literat.

Wujud tertinggi dari kegiatan literasi tentu saja menghasilkan berbagai tulisan bermanfaat dan meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi bangsa ini. Sungguh ini merupakan cita-cita yang mulia. Cita-cita bangsa ini harus kita dukung agar generasi-generasi bangsa ke depan adalah orang-orang yang mampu berpikir dan berkarya bagi kemajuan bangsa.

Apakah menulis itu sulit? Ya, tentu saja. Secara hierarkinya menulis merupakan keterampilan tertinggi yang dikuasai seseorang dalam bidang bahasa setelah ia mengusai keterampilan membaca, menyimak dan berbicara. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), menulis adalah melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan. Sejalan dengan itu, Suyitno dalam situs https://penerbitdeepublish.com/pengertian-menulis/ menyatakan bahwa menulis sebagai upaya menuangkan pikiran, ilmu, ide gagasan dan pengalaman hidup dari si penulis dalam bahasa tulis. Lebih lanjut dijelaskan bahwa agar tulisan tersebut mudah dipahami dan mampu membangkitkan emosi, maka penulis harus menulis secara runtut, enak dibaca, ekspresif, dan mudah dipahami oleh orang lain. Jadi, melalui kegiatan menulis kita dapat menuangkan ide, pikiran, dan perasaan sesuai style kita masing-masing dengan tujuan agar ide dan gagasan yang kita sampaikan dapat dipahami orang lain.

BACA JUGA  Kelas Menulis Online 'Menulis 1 Buku Dalam Waktu 1 Jam' di Tanah Datar Ditunda

Apapun bentuk gaya menulis yang disajikan tentu saja tidak bisa lepas dari kaidah tata bahasa yang baik. Tulisan yang baik tentu saja harus mampu mewakili secara tepat gagasan penulisnya. Enre (1994:5-7) mengemukakan bahwa ada lima ciri-ciri tulisan yang baik, yaitu (1) bermakna; (2) jelas; (3) bulat dan utuh; (4) ekonomis; dan (5) memenuhi kaidah-kaidah gramatika. Kelima ciri-ciri tersebut diuraikan sebagai berikut ini. 1. Tulisan yang baik selalu bermakna. Tulisan yang baik harus mampu menyatakan sesuatu yang mempunyai makna bagi seseorang dan memberikan bukti terhadap yangdikatakan dalam tulisan. 2. Tulisan yang baik selalu jelas. Sebuah tulisan dapat disebut jelas jika pembaca dapat membacanya dengan kecepatan yang tetap dan menangkap maknanya.

3. Tulisan yang baik selalu padu dan utuh. Sebuah tulisan dikatakan padu dan utuh jika pembaca dapat mengikutinya dengan mudah karena ia diorganisasikan dengan jelas menurut suatu perencanaan karena bagian-bagiannya dihubungkan satu dengan yang lainnya, baik dengan perantaraan pola yang mendasarinya atau dengan kata atau farasa penghubung. 4. Tulisan yang baik selalu ekonomis. Penulis yang baik tidak akan membiarkan waktupembaca hilang dengan sia-sia sehingga ia akan membuang semua kata yang berlebihan daritulisannya. Seorang penulis yang ingin mengikuti perhatian pembacanya harus berusaha terusuntuk menjaga agar karangannya padat yang lurus ke depan. 5. Tulisan yang baik selalu mengikuti kaidah gramatika. (https://www.coursehero.com/file/p7v9f7jo/).

Menulis akan menjadi sulit dan sangat sulit apabila kegiatan menulis menjadi suatu beban bagi kita. Menulis akan menjadi sulit apabila kegiatan ini dihantui dengan ketakutan salah menggunakan tata bahasa. Dan menulis akan menjadi sulit, saat kita merasa takut tulisan yang kita buat akan ditolak oleh orang lain. jika hal ini yang terjadi tentu saja menulis itu menjadi pekerjaan tersulit bagi kita.

Bisakah menulis itu menjadi mudah dilakukan? Tentu saja bisa. Jika menulis itu sulit bagaimana mungkin seorang penulis bisa menghasilkan ribuan karya. Jika menulis itu sulit mengapa para penyair bisa menulis ribuan karya. Jika menulis itu sulit mengapa wartawan bisa menulis ribuan berita dan artikel. Jika menulis itu sulit tidak mungkin pula seorang orator dapat menulis ribuan naskah pidato. Mengapa mereka dapat menghasilkan ribuan karya? Jawabannya tentu saja tidak lain karena menulis itu tidak sulit.

BACA JUGA  Diduga Bodong, Moge Rombongan Pengeroyok Prajurit TNI Diproses Polda Sumbar

Ya, pada dasarnya menulis itu mudah. Sebelum menulis, terlebih dahulu kita harus melewati beberapa tahapan. Tahapan ini akan membantu membuat kegiatan menulis  menjadi lebih mudah. Pertama, lakukan persiapan terlebih dahulu. Dalam https://pelitaku.sabda.org/lima_langkah_penulisan_yang_berhasil ada tiga persiapan yang harus dilakukan sebelum memulai kegiatan menulis, yaitu menetapkan tujuan, mengidentifikasi pembaca, dan menentukan batasan tulisan.

Kedua lakukan pengamatan. Pengamatan dapat dilakukan secara langsung ataupun melalui pengamatan melalui studi Pustaka atau sekedar berselancar di dunia maya untuk mendapatkan informasi atau gambaran awal yang akan membantu kita dalam menuangkan gagasan.

Setelah melakukan pengamatan dan mengumpulkan bahan-bahan selanjutkan lakukan tahap ketiga, yaitu pengorganisasian. Pengorganisasian bahan-bahan yang terkumpul akan membantu kita untuk lebih mudah mengembangkan ide dan gagasan yang akan disampaikan. Selain itu, ide dan gagasan juga akan terorganisir dengan baik, tulisan yang kita buat tidak akan lari dari tujuan awal penulisan karya. Ketika menulis, kita seringkali terlena karena asyik dan tenggelam  dalam tulisan yang kita buat sehingga tujuan awal menulis tidak tercapai.

Setelah ketiga tahap penting diatas dilalui, saatnya kita berlanjut pada tahap berikutnya, yaitu penulisan draft. Pada tahap inilah kerangka karangan yang sudah dibuat dikembangkan dalam bentuk kalimat-kalimat, kemudian kalimat-kalimat dikembangkakn menjadi paragraf. pada tahap ini seorang penulis harus fokus pada ide awal yang ingin disampaikan dalam karangannya. Lupakan sementara aturan tata Bahasa dan sistematika yang rumut dan membingungkan. Fokuslah hanya pada tulisan yang dibuat. Jadikan menulis itu kegiatan yang mudah dan menyenangkan.

Menulis akan menjadi mudah saat kita menjadikan kegiatan menulis adalah panggilan jiwa, bukan beban. Sebenarnya menulis hanyalah kegiatan menuangkan isi pikiran dalam bentuk tulisan. Sebagaimana kita menuangkan pikiran melalui kegiatan berbicara. Kita bisa mengawali sebuah tulisan dengan menuangkan apa saja kata yang terlintas dipikiran kita. Tuliskan hal-hal yang kita rasakan.

Tuliskan hal-hal yang kita lalui. Tuliskan apa yang terlintas dipikiran dan apa yang teringat. Mungkin awalnya akan terseok-seok, sedikit lambat bahkan sulit tapi jika hal ini kita lakukan berulang kali maka alur pemikiran lama-kelamaan akan terbentuk. Semakin lama kemampuan menulis akan semakin baik tanpa kita sadari.  Jangan pikirkan dulu tata bahasa, Tidak usah memusingkan struktur karangan. Tuangkan saja seluruh ide ke atas kertas dan biarkan jemari kita bermain di atasnya.

BACA JUGA  Kapolda Turun Langsung ke Lokasi Unjuk Rasa di DPRD Sumbar

Nah, setelah semua pemikiran tertuang, maka saatnya kita melakukan tahapan terkahir dari kegiatan menulis ini, yaitu tahap revisi. Baca kembali kalimat yang sudah ditulis. Apakah setiap kalimat yang ditulis sudah mewakili ide dan gagasan yang hendak disampaikan? Periksa kembali koherensi antar kalimat tersebut dalam masing-masing paragraph. Jangan sampai kalimat yang ditulis melenceng dari makksud dan tujuan awal. Hapuskan semua kalimat yang mubazir. Ganti kalimat yang tidak tepat. Buang kalimat yang tidak sesuai dengan topik.

Lakukan kegiatan penyuntingan ini berulang kali. Jika perlu minta orang lain membaca tulisan yang dibuat. Minta mereka memberikan kritik dan saran terhadap tulisan kita. Semakin banyak yang membaca maka akan semakin banyak masukan. Hal ini juga akan meningkatkan kepercayaan diri dalam menulis. Kegiatan penyuntingan ini sangat penting dilakukan untuk meningkatkan kualitas tulisan, sehingga tulisan yang dihasilkan bukan tulisan abal-abal.

Amati kembali tulisan yang sudah dibuat jangan sampai ada kalimat yang janggal dan melenceng. Jika tulisan dibaca hanya oleh penulisnya maka sulit menemukan kejanggalan dan pemelencengan dari tulisan kita. Oleh karena itu, untuk mempermudahnya, mintalah seseorang membacakan tulisan tersebut dengan suara keras sehingga kejangggalan tersebut akan ditemukan dengan mudah. Beberapa kalimat yang tidak biasa atau atau kalimat yang terdengar alami akan terdeteksi saat kita membaca kalimat tersebut dengan suara keras. Begitu juga dengan kata-kata, frase-frase, dan kalimat-kalimat yang terkesan menggurui pembaca segera dapat diketahui.

Dalam menyajikan sebuah tulisan penting juga untuk mengetahui siapa pembaca tulisan kita, Jika pembaca tulisan kita kalangan berpendidikan, jangan mencoba untuk melucu. Mengganti kata yang tidak cocok juga menjadi bagian yang harus kita lakukan pada tahap ini.  Terakhir, periksa kembali dengan saksama tata bahasa, tanda baca, dan hal-hal mekanis (ejaan, singkatan, huruf kapital dll.) dan format.

Menulis memang mudah diucapkan, tapi sulit untuk dilakukan. Namun, menulis tidak akan sulit lagi jika kegiatan menulis sudah menjadi panggilan jiwa. Menulislah dari sekarang atau tidak sama sekali.  Keputusan di tangan kita. Orang sukses harus menulis. Dengan menulis, kita bisa meraih kesuksesan. (sebuah motivasi diri)

 Baca Juga : 

Facebook Comments

loading...