SuhaNews. Menteri Agama RI melalui Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam menurunkan himbauan untuk melaksanakan Salat Kusuf Gerhana Matahari. Sesuai informasi BMKG diperkirakan hari ini Minggu (21/6) terjadi gerhana matahari parsial, yang dapat diamati di tiga puluh satu titik di Indonesia. Untuk wilayah Sumatera Barat, Gerhana Matahari bermula pada pukul 14.03 WIB, puncaknya terjadi pada 14.54 WIB, dan akan berakhir pada 15.37 WIB.
Menindak lanjuti surat himbauan tersebut, sehabis shalat Zuhur tadi, untuk tingkat Sumatera Barat telah dilaksanakan shalat sunnat gerhana matahari atau shalat sunnat khusuf. Shalat dilaksanakan di Mesjid Raya Sumatera Barat dengan Khatib Prof. DR.H. Duski Samad, M.Ag dan Imam Ustazd DR. H. Rafles, M.Si.
Pelaksaan Shalat sunnat gerhana ini tetap memperhatikan protokol kesehatan. Terlihat sebelum memasuki masjid, para jamaah yang datang termasuk Gubernur Sumbar dan Kakanwil Kemenag Sumbar mencuci tangan di tempat yang telah disediakan, pengecekan suhu tubuh dan masing-masing menggunakan masker.
Sebelum shalat dimulai kegiatan diisi dengan laporan dari Ketua Pengurus Masjid Raya, Sobhan Lubis. Kemudian sambutan Kakanwil Kemenag Sumbar, H. Hendri, sambutan Gubernur Sumatera Barat,Irwan Prayitno dengan Pembawa Acara, H. Amrizal Kasi kemasjidan Kanwil Kemenag Sumbar.
Kegiatan dihadari oleh Kabag TU, Kabid-kabid dan Kasi-Kasi di Lingkungan Kanwil Kemenag Sumbar, Kabiro Bina Mental dan Kesra. Tampak hadir juga Ketua dan Sekretaris DWP Kanwil Kemenag Sumbar, Kakankemenag Kota Padang, Kepala Madrasah, Penyuluh Agama Islam Kanwil dan Penyuluh Agama Islam Kota Padang.
Terlihat ratusan jamaah turut serta melaksanakan shalat sunnat Khusuf di Masjid Raya Ini.
Dalam laporan pengurus Masjid, Sobhan Lubis menyatakan merasa bahagia atas kepercayaan dipilihnya Masjid Raya sebagai tempat pelaksanaan shalat sunnat gerhana kali ini. Setelah mendapat pemberitahuan dari Kanwil Kemenag Sumbar kemaren sore, pihak Masjid segera mempersiapkan tempat untuk pelaksaan shalat.
Pada kesempatan ini Kakanwil Kemenag Sumbar H. Hendri berkesempatan memberikan sambutan.
BERITA TERKAIT :
- Diikuti Bupati Solok, Salat Kusuf Berlangsung Dengan Protokol Kesehatan
- Kemenag Kab. Solok Gelar Salat Gerhana di Islamic Center Koto Baru
- Masyarakat Kota Solok Shalat Gerhana di Masjid Agung
Dalam sambutannya, Kakanwil menyampaikan sejumlah masjid di Sumatera Barat serentak menggelar shalat sunnat gerhana matahari pada Minggu, (21/6) atau bertepatan dengan 29 Syawal 1441 Hijriah.
“Alhamdulillah, pelaksanaan shalat sunnat gerhana matahari kali ini serentak dilaksanakan sejumlah masjid di Sumbar. Selain di masjid raya Sumbar, juga diadakan di beberapa masjid agung lainnya,” ungkapnya.
Shalat digelar dalam rangka menindaklanjuti surat Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam nomor : B-1573/Dt.III.II/HM.00/06/2020 pada 19 Juni 2020 terkait imbauan pelaksanaan salat sunah gerhana matahari pada hari ini,” imbuhnya.
Lebih lanjut ia mengatakan pelaksanaan shalat sunat gerhana matahari dalam rangka menunaikan sunnah nabi Muhammad SAW untuk menambah keimanan kepada Allah SWT berdasarkan fenomena alam yang terjadi berupa gerhana matahari.
“Ini dalam bentuk keyakinan kita kepada Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah. Dengan cara melaksanakan shalat sunnat gerhana sebanyak dua rakaat yang diikuti dengan khutbah,” kata Hendri.
Menurutnya dengan adanya fenomena alam tersebut dapat memperkuat iman seseorang sebagai hamba Allah.
“Kemudian dengan adanya gerhana matahari tersebut dapat meyakini bahwa Allah maha kuasa yang mampu mengatur alam ini dengan sebaik-baiknya. Hal inj disebut tauhid rububiyah,” kata dia.
Kemudian ia mengatakan setelah dilakukan pemantauan, gerhana matahari hanya bisa dilihat sekitar 9,9 persen, artinya kecil dan tidak kelihatan begitu gelap. Namun awalnya terlihat pada 14.03 WIB, puncaknya 14.47 WIB, dan berakhir pada 15.37 WIB.”
Sementara Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengatakan gerhana matahari merupakan tanda kebesaran Allah dan pelaksanaan shalat sunnat gerhana merupakan sunah nabi untuk meningkatkan keimanan kepada Allah.
“Fenomena gerhana matahari ini menjadi bagian dari kekuasaan Allah SWT, agar manusia selalu ingat bahwa ada kekuatan Allah yang mengatur seluruh alam semesta,” katanya yang juga mengikuti pelaksanaan shalat gerhana matahari yang digelar di Masjid Raya Sumbar.
Kemudian Irwan Prayitno mengajak para jemaah untuk menjaga kebersihan, membawa peralatan ibadah sendiri.
“Mari kita mendekatkan diri kepada Allah dengan turut menunaikan shalat sunnat gerhana matahari. Namun tetap memperhatikan protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19,” ungkapnya.

Usai shalat sunnat khusuf langsung dilanjutkan dengan khutbah yang disampaikan oleh Prof. DR.H. Duski Samad, M.Ag dengan judul Gehana Matahari Kuatkan Aqidah dan Ilmiah.
Sebagai seorang ulama dan juga guru besar, kali ini Duski Samad menilik Gerhana dari dua sisi, yakni aqidah dan keilmuan.
Menurutnya, sudah lumrah kiranya fenomena-fenome alam yang terjadi kita jadikan momen untuk meningkatkan aqidah dan keyakinan kita terhadapa Allah SWT. Gerhana adalah tanda kekuasaan Allah. Allah-lah yang menciptakan matahari dan bulan sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Alquran membimbing manusia, bahwa peristiwa alam adalah laayatul lil ulil al bab, tanda-tanda, morse, yang dapat dibaca orang cerdas. Fenomena gerhana adalah saatnya menghadirkan perasaan takut dan khawatir akan terjadi kiamat, jelasnya lagi.
Kemudian ia melanjutkan hikmah yang dapat diambil dari peristiwa gerhana ini adalah, sebagai salah satu tanda diantara kekuasaan Allah. Dalam skala besar hikmah gerhana adalah tanda akan hadirnya Dzat dengan kekuasaan yang tak mungkin tertandingi oleh apapun dan siapa pun.
Secara ilmiah, hikmah kejadian ini adalah sebagai pemisalan. Contoh kasus akan terjadi pada hari kiamat bahwa hal tersebut mudah bagi Allah, begitu lanjut Duski.
Kemudian Ia mengingatkan empat amalan yang dapat dilakukan ketika gerhana matahari, yakni berdoa, bertakbir, shalat khusuf dan bersedekah.
Duski mengajak mari pergunakan kajian ilmiah dalam menyikapi fenome yang terjadi dalam rangka mendekatkan diri kepada Alllah. Mari jadi masyarakat yang kuat aqidah dan cerdas ilmiah sehingga terjawab makna ulil albab.
Usai pelaksaan shalat, Gubernur, Kakanwil berserta jajaran dan para jamaah berkesempatan mengamati peristiwa gerhana melalui teleskop yang telah dipersiapkan oleh Tim BHR Kanwil Kemenag Sumbar. Namun karena cuaca yang mendung, peristiwa gerhana tak terlihat karena memang hari ini terjadi gerhana matahari cincin sekitar 9,9 persen.
editor : Moentjak sumber : Sumbar.Kemenag.go.id
Baca Juga :



Facebook Comments