Harimau di Solok Masih Berkeliaran, BKSDA Butuh Dana Ratusan Juta

1356
solok
Ilustrasi, foto: pixabay.com
Solok, SuhaNews. Sejak pertama kali muncul dan membuat geger warga Gantung Ciri kec. Kubung Kab. Solok pada Kamis sore (14/5) lalu, kehadiran 3 ekor Harimau Sumatera membuat masyarakat nagari Gantung Ciri  dan nagari Jawi-Jawi kec. Gunung Talang selalu was-was saat beraktiviitas di ladang.

Saat pertama muncul, tiga ekor harimau ini menghadang 4 warga Gantung Ciri yang pulang dari Ladang. Mereka bersembunyi di pondok ladang. Saat datang bantuan, Harimau seakan memberikan perlawanan sehingga keduanya yang berniat membantu juga harus menyelamatkan diri ke pohon.

Empat hari kemudian, 3 ekor Harimau ini terlihat berkeliaran di nagari Jawi-Jawi. Ketiganya juga memperlihatkan diri pada warga yang pulang dari ladang. Selain di Jawi-Jawi, Harimau juga terlihat jorong Pinang Sinawa nagari Gantung Ciri.

Atas kondisi ini BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Sumbar resor Solok turun tangan.

Dilansir oleh Langgam.id pada Senin (25/5) yang lalu, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor Solok Afrilius mengatakan, saat ini pihaknya meminta agar masyarakat menghindar lokasi harimau tersebut. Harimau tersebut sudah berada dalam kawasan, sementara warga berladang di dalam hutan.

Ia menjelaskan disana ada Hutan Lindung (HL), areal penggunaan lain (APL), dan suaka margasatwa (SM) Bukit Barisan. Pada kawasan HL sudah banyak jadi ladang masyarakat, dan banyak pakai pagar kawat jerat.

Berita Terkait : Harimau Kembali Tampakan Diri, Masyarakat Gantung Ciri Resah

Afrilius mengatakan, pihaknya telah menyampaikan kepada empat wali nagari untuk waspada, Masing-masing nagari tersebut, Nagari Gantung Ciri, Nagari Jawi Jawi, Nagari Koto Gaek dan Nagari Koto hilalang.

BKSDA mengajak masyarakat melakukan pengusiran dengan suara badia batuang atau meriam bambu itu dapat dilakukan secara serentak setiap sore hingga malam atau setelah salat Subuh hingga pagi hari. Suara yang ditimbulkan ini bisa membuat harimau semakin jauh ke dalam hutan.

“Jika masyarakat ingin masuk ke dalam atau ke pinggir kawasan hutan untuk memanen hasil pertanian misalnya, jangan lakukan sendiri-sendiri,” ulas Afrilius.

“Lakukanlah panen secara berkelompok atau bersama-sama. Jangan memencil dari rombongan, usahakan sebelum waktu salat ashar sudah kembali ke kampung,” imbuhnya.

Afrilius berharap masyarakat mematuhi hal tersebut. Namun sampai kini masih ditemukan warga yang tidak patuh, padahal hewas buas itu jelas membahayakan nyawa. Bahkan, jika ditemukan baju warga yang dirobek di pondok ladang bisa lebih berbahaya lagi. Sebab harimau itu akan mencari pemilik baju untuk dimangsa.

Pengusiran dengan suara badia batuang atau meriam bambu itu dapat dilakukan secara serentak setiap sore hingga malam atau setelah salat Subuh hingga pagi hari. Suara yang ditimbulkan ini bisa membuat harimau semakin jauh ke dalam hutan.

Dia mengatakan pihaknya memang berencana ingin menangkap induk hewan tersebut agar dilakukan perawatan untuk kemudian kembali dilepaskan. Namun, anggaran untuk itu saat ini tidak ada, karena telah dikembalikan ke pusat akibat penanganan covid-19.

Berita Terkait :

“Dana kantor kan dikembalikan, kalau tidak sudah selesai kami penanganan,” katanya.

Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan dokter hewan yang ahli soal harimau, hanya saja mereka jauh di luar Sumbar. Mendatangkan mereka butuh izin dan biaya. Sementara untuk dokter ahli harimau di Sumbar baru meninggal dunia beberapa waktu lalu.

Ia menyebut perkiraan untuk biaya penanganan bisa mencapai Rp100 juta. Hal itu untuk mendatangkan ahli, biaya perangkap, pemasangan kamera trap, peralatan, umpan seperti kambing untuk tiga ekor harimau.

Saat ini, ia juga terus berusaha bekerjasama dengan sejumlah LSM. Masuk hutan juga membutuhkan biaya besar, karena bisa 10 hari lebih dalam hutan dengan puluhan orang. Ia juga telah melaporkan kesulitan ini hingga tingkat dirjen di pemerintah pusat.

“Penanganan kita terkendala untuk evakuasi induknya yang sakit, karena perlu tim profesional, dokter, banyak kita tim yang ingin pergi tapi peralatan tidak ada,” katanya.

Pihaknya mengutamakan menangkap induknya terlebih dahulu karena dia sakit. Bahkan saat ini anaknya itulah yang berburu dan membantu memberi makan induknya. Mereka bertahan hidup dengan memakan babi-babi kecil yang ada di sekitar hutan.

Jika induknya ditangkap anaknya yang diduga jantan kemungkinan akan kembali ke hutan, karena ia bisa berburu. Namun pihaknya ingin Harimau itu juga ditangkap dengan anaknya.

“Jadi anaknya yang berburu, apalagi kalau anaknya jantan akan dilindungi induknya supaya tidak diganggu oleh jantan lain,” katanya.

editor : Moentjak  sumber : Langgam.Id

Baca Juga :

Facebook Comments

loading...