Trip Report ANS 31 Royal Class aka Alika, Digoyang Pak Kodim Hingga ke Palapa (bagian 4)

Trip Report ANS 31 Royal Class aka Alika, Digoyang Pak Kodim dilintas Tebo (bagian 4)

Trip Report ANS 31 Royal Class aka Alika, Digoyang Pak Kodim Hingga ke Palapa (bagian 4)

Penulis : Fendi Moentjak, perjalanan Jakarta – Solok (28-29 Januari 2021) dengan bus ANS

Trip report edisi keempat ini, kelanjutan perjalanan bus ANS aka Alika menuju Lintas Tengah setelah berhenti makan di rumah makan Simpang Raya Bayung Lincir.

Karena berhentinya menjelang subuh, lebih tepatnya waktu sahur, boleh dibilang tak ada penumpang yang makan. Namun ruang rumah makan yang menyediakan sarapan terlihat penuh, begitu juga dengan Sate Padang yang ada disamping lobi rumah makan.

Semula kami berniat mencoba satenya, karena dari aromanya menggugah selera juga. Tapi tempat duduk yang tersedia terbatas terpaksa niat tersebut kami urungkan.

Ada kejadian menarik pagi itu di rumah makan Simpang Raya dan mungkin saja ini sering dialami para penumpang, terutama bus yang satu perusahaan dan parkir berdampingan di rumah makan.

Saat ada pengumuman salah satu bus ANS akan berangkat melanjutkan perjalanan, terlihat para penumpang mulai terburu-buru. baik yang berada di ruang sarapan maupun yang tengah mengantri di kamar mandi.

Walau petugas sudah menyebutkan nomor pintu dan nomor polisi busnya, sebagian besar penumpang tidak memperhatikan bahkan tidak mengenali nomor bus yang ditumpangi. Apalagi untuk ANS semua sama warnanya, kecuali penggemar bus akan mengenali perbedaan dari setiap angkatan bus ANS yang keluar karoseri mulai dari ANS Grand Tourismo edisi perdana hingga New Patriot edisi terbaru yang relis Desember 2020 lalu.

Kejadian ini juga menimpa salah satu anggota rombongan kami, masih dalam antrian di kamar mandi, berbegas kembali ke parkiran sembari mengamati pergerakan penumpang lain.

Penulis jelaskan pada ibuk tersebut, yang dipanggil penumpang ANS Royal Eksekutif nomor pintu 33, kita berada di bus ANS Royal Eksekutif nomor pintu 31. Akhirnya ia pun melanjutkan antrinya di kamar mandi.

Setelah tak mendapat tempat di tukang sate, bidikan kami lanjutkan ke samping kanan rumah makan. Di ruang sarapan tersebut tersedia aneka makanan mulai dari nasi goreng, aneka mi hingga berbagai pecel dan minuman.

Kami sepakat memesan nasi goreng dan dibungkus, makannya nanti saja dijalan, karena masih terlalu pagi, jadi perut belum bersahabat untuk diisi.

Seperti biasa, menunggu pesanan nasi goreng, penulis salurkan hobi menjepret bus. Kebetulan yang berdiri didepan ruang sarapan ini Transport Expres no 44, dan disampingnya ANS Ventura aka 46 Project.

Sementara ANS aka ALika yang kami tumpangi sedang menjalani “ritual cuci muka”. Petugas yang disediakan oleh rumah makan tampak sedang mencuci kaca depan bus yang mulai kabur dihinggapi embun pagi.

BACA JUGA  Jakarta Terapkan PSBB, Bus ANS Tetap Beroperasi

Seiring selesainya pesanan nasi goreng, panggilan untuk penumpang ANS Alika juga terdengar. kamipun segera kembali ke bus.

“Subuh masih lama, kita nanti salatnya cari masjid yang dipinggir jalan ya,” ujar Pak Kodim saat penulis menyapanya yang telah duduk dibelakang kemudi.

Mungkin Pak Kodim teringat waktu di Gadang Jaya 3, rombongan kami terlambat naik bus karena salat.

Pukul 04.30 ANS aka Alika meninggalkan rumah makan Simpang Raya melanjutkan perjalanan menuju Ranah Minang. Kini giliran pak Kodim yang memegang kemudi. Tak jauh dari rumah makan, bus pun belok kiri menuju Muara Bulian.

Dijalur ini penumpang dapat merasakan lembutnya goyangan Air Suspensi yang tersemat di chasis ANS aka Alika ini. Walau Pak Kodim sudah melambatkan laju bus, dan memandunya berjalan pelan melintasi lobang, bus tetap bergoyang karena buruknya kondisi jalan.

Ketika ada satu masjid dipinggir jalan, Pak Kodim berhenti dan mempersilahkan penumpang untuk salat Subuh di desa Penerokan masuk kabupaten Batang Hari propinsi Jambi. Diikuti oleh ANS Ventura aka 46 yang jalan beriringan dengan Alika.

Alika kembali bergerak usai salat Subuh pukul 05.20 terus melaju menuju Muara Bulian. Lepas dari pertigaan Muara Bulian, jalan sudah mulai bagus. Pak Kodim bisa menambah laju busnya. Ternyata didepan sudah ada ANS nopin 33 Thoiron Ababil, jadilah tiga bus ini beriringan.

Paling depan ANS Patriot Royal Class 33 aka Thoiron Ababil, ditengah ANS Ventura Eksekutif Class 46 aka Project dan dibelakang ANS Patriot Royal Class 31 aka Alika yang dikemudikan Pak Kodim.

Sepanjang liku jalan dari Muaro Bulian ke Muaro Tebo hingga ke Muaro Bungo, tiga bus seinduk semang ini berjalan beriringan. Melihat momen ini, penulis menuju kabin depan yang juga berfungsi sebagai smoking area.

Duduk disamping Pak Kodim, penulis coba mengambil video iringan tiga bus ini, sembari bercakap dengan Pak Kodim.

Diperbatasan antara Muaro Bulian dan Muaro tebo, Alika bertemu dengan Grand Epa berbody Maxtrem menuju arah Palembang. Sepertinya bus ini terlambat, karena biasanya bus tujuan Palembang melintas menjelang Subuh di daerah ini.

Walau jalan berliku, sesekali juga bertemu tanjakan, tak mengurangi laju bus. Pak Kodim terlihat piawai memainkan kemudi, termasuk saat bertemu dengan truk pengangkut sawit maupun dump truck proyek.

Sempat juga bincang singkat dengan pak Kodim sembari mengamati caranya memegang kemudi. Ceritanya masih seputar bus, mulai dari armada terbaru ANS hingga pelayanannya.

BACA JUGA  Nagari Kapau Alam Duo, Siapkan Rumah Isolasi Covid

Pukul 10.05 WIB tiga bus biru ini masuk terminal Muaro Bungo, setelah melapor ke petugas bus kembali melaju menikmati trek lurus Muaro Bungo menuju Dharmasraya. Tak jauh dari terminal ini, “Alika” bersaudara berhenti dan menambah energi di SPBU. Ada 4 unit ANS termasuk Alika.

Usai mengisi Solar, bus kembali melaju di tanjakan dam turunan jalan lurus antara Muaro Bungo dan Dharmasraya.

Setelah dapat memacu laju bus di daerah Muaro Bungo, memasiki daerah Sumbar disambut oleh jalan rusak. Lubang pertama yang ditemui berada tak jauh dari tapal batas, tepatnya jembatan didepan pabrik karet.

Berlanjut dalam kawasan Sungai Rumbai hingga ke Koto Baru, banyak lobang menganga di jalan, hingga bus harus meliuk dijalan menghindari lobang. Atau berjalan perlahan masuk lobang karena ada kendaraan lain.

Penulis berniat ingin melihat rumah makan MPM, ingin tahu bus apa yang juga baru sampai di Sumbar dan menjepretnya. Namun karena ada telpon masuk, hal ini jadi terlupa. Bahkan rumah makan Umega hampir luput dari jepretan penulis. Setelah sampai diujung kawasan Umega, sempat juga memotret satu uni NPM Avante yang lagi istirahat, tapi tidak terlihat nomornya.

Dari Gunung Medan hingga ke Pulau Punjung, jalan lumayan lurus, namun karena banyaknya kendaraan bus pun tidak melaju kencang. Dengan tenang “Alika” melewati jembatan jembar Sungai Dareh, yang kata sebagian orang jembatan barunya mirip jembatan merah di Ambon.

Melewati Pulau Punjung, Sialang dan melintasi batas Dharmasraya dan Sijunjung. Di Tanjung Gadang bus berhenti, naik pengamen yang memiliki keterbatasan penglihatan, namun tak jadi halangan baginya untuk terus berkary dan berusaha.

Pengamen yang disapa Edi oleh In combo, pilot Alika, terdengar merka bercanda sebelum Edi menyanyikan lagu. Beberapa tembang dibawakannya, ada lagu nostalgia miliknya Pance Ponda hingga lagu Minang, sebelum ia mengeluarkan plastik kemasan permen dan menyodorkan kesetiap penumpang.

Tak lama setelah Edi mengamen, bus pun berbelok masuk ke halaman rumah makan Palapa, perhentian terakhir bus ANS di Ranah Minang. Disana juga telah menunggu 4 unit ANS lainnya yang waktu itu juga bersamaan dengan waktu salat Jumat.

Selama penumpang makan, para crew dari masing-masing bus ANS terlihat sibuk membersihkan armada masing-masing, sebelum mereka ikut makan bersama sopir yang telah lebih dulu makan di ruang khusus.

Selesai makan, Pak Kodim istrirahat, kemudi kembali dipegang In Combo. Menuju kota Solok melintasi Kiliran Jao, Tanjung Gadang hingga Sijunjung, Alika tak bisa berlari kencang karena jalannya rusak parah, dengan lobang dalam dan lebar menganga ditengah jalan.

BACA JUGA  Gandeng Suherman TRD, Gusmal Siap Menuju Sumbar 1

Namun bagi penumpang kondisi jalan seperti inilah saatnya merasakan dan membuktikan nyamannya bus Air Suspensi dengan bus per daun. Dari pengalman penulis, terasa bus dengan Air Suspensi terasa lebih lembut goyangannya.

Beberapa kali juga terlihat truk kecelakaan tunggal sepanjang rute ini, di Kiliran Jao, sebuah Dump Truk tergolek dengan muatan berserakan, setelah oleng saat melintasi lubang.

Ditanjung Gadang ada truk Canter milik ekspedisi AWR, tengah patas as roda depan, juga setelah melewati lubang. Akibat kejadian ini arus lalu lintas tersendat dari kedua arah.

Di simpang Muaro Kalaban, Alika berhenti karena ada penumpang tujuan kota Sawahlunto. Di pasar Silungkang juga da penumpng turun. Sebelumnya akhirnya bus kembali melaju melewati batas kota Silungkang.

Di perbatasan Batang Pamo tampak beberapa bismania telah menunggu “Alika” dengan kamera stand by ditangan, dengan ramah In Combo menyapa mereka.

Tak terasa, bus telah sampai di terminal Bareh Solok. Ternyata Alika menjadi yang terakhir sampai disini. Enam unit ANS lainnya telah menunggu.

Terminal Bareh Solok merupakan tempat transit bagi bus ANS, penumpang akan dipisah, untuk yang tujuannya berbeda dengan bus yang ditumpangi akan dipindah ke bus lain sesuai tujuan. Dari enam bus yang ada, 1 bus ke Payakumbuh via Batusangkar, 3 ke Bukittinggi dan 3 ke Padang. Alika sendiri mendapat tugas ke Bukittinggi.

Saat mengambil bagasi, sempat bercakap sebentar dengan kedua pilot Alika, In Combo dan Pak Kodim, mengucapkan terima kasih telah membawa kami dengan selamat dari Jakarta menuju Sumbar.

Kamipun satu rombongan dari Kemenag Sumbar juga harus berpisah. Gusmizar, orang Pasaman Barat yang berdinas ke Kanwil melanjutkan perjalanan ke kota Padang. Harnina dari Limapuluhkota melanjutkan perjalanan ke Payakumbuh. M. Yusuf, dari Pasaman, tetap di Alika hingga ke Bukittinggi sebelum melanjutkan dengan Travel ke Lubuk Sikaping.

Sedangkan penulis sendiri, mengakhiri perjalanan Jakarta – Sumbar di terminal Bareh Solok ini. Terima kasih netizen telah mengikuti trip report ini. Semoga bermanfat dan menjadi referensi untuk menikmati transportasi darat, sebagaimana slogan “Ayo Naik Bus, Biar Gak Macet”.

Beberapa kisah pendukung dari perjalanan ini Insha Allah akan segera menyusul.

Baca Juga :

Facebook Comments

loading...