Uang Satu Milyar lebih itu, Harus Dikembalikan !

satu
Buya Gusrizal Gazahar Dt Palimo Basa

Uang Satu Milyar lebih itu, Harus Dikembalikan !

oleh : Buya Gusrizal Gazahar Dt Palimo Basa

Baru saja Musda Organisasi Ulama selesai, sang bupati mengatakan kepada jajaran pengurus baru, “suruhlah saya melakukan apa yang terbaik menurut ulama, saya akan melaksanakannya sebatas kemampuan dan kewenangan saya. Jangan keluhkan lagi biaya kegiatan ! Saya tak akan membiarkan ulama mengemis lagi meminta dana setiap akan bergerak”.
Sang ustadz kampung hadir dalam rombongan yang bertemu dengan bupati itu karena ia termasuk salah seorang ketua yang terpilih.
Dalam hatinya, sang ustadz membathin, “apakah bisa dibuktikan janji bupati ini ?”.

Ternyata tak sampai satu bulan setelah pertemuan itu, ustadz muda dari kampung itu bertemu dalam satu acara dengan sang bupati. Bupati itu berkata, “itu sudah saya anggarkan satu milyar lebih untuk kegiatan keagamaan dan leading sektornya adalah ulama.

Terserah ulama lah mau buat kegiatan apa. Ustadz hubungi saja bagian Kesra di kantor !”.

Ustadz itu pun sambil terheran antara percaya dan tidak, berkata, “baik, nanti saya hubungi bagian kesra pak”.

Setelah beberapa hari berlalu, bagian kesra kantor bupati malah memberi tahu bahwa ada anggaran satu milyar lebih untuk digunakan oleh ulama, terserah ulama mau menggunakan untuk kegiatan apa.

Sang ustadz kampung segera menelpon Ketua Umum agar segera memusyawarahkan penggunaan dana yang sangat besar ini.
Namun sang ustadz sangat kecewa ketika musyawarah itu terjadi karena yang dibicarakan bukanlah kebutuhan umat tapi lebih banyak berbicara studi banding sambil jalan-jalan. Ustadz muda itu kalah suara dan hanya didukung oleh seorang ulama tua.
Apa boleh buat, program yang disusun tak sesuai dengan harapan sang ustadz muda.

Kader ulama yang diusulkan hanya ditanggapi dengan pelatihan imam dan khatib dua hari.

Sang ustadz kampung terpaksa bersabar melihat langkah ke depan.

Namun ternyata yang ditunggu bukanlah yang menyenangkan tapi sangat mengecewakan. Acara yang hanya dihadiri tiga puluhan orang, dilaporkan dihadiri enam puluhan orang.
Acara sehari dilaporkan dua hari. Mark up demi mark up dilakukan. Sangat sedih… sekali karena yang berbuat begitu adalah yang sering mengaji halal dan haram.

Ketika diingatkan oleh ustadz muda itu, banyak yang merasa bahwa ustadz muda bukan saja dari kampung tapi juga dianggap kampungan karena masalah kecil dibesar-besarkan.

Idealisme anak muda yang belajar menjadi ustadz, tak bisa ditinggalkan oleh ustadz kampung. Ia minta dewan penasehat untuk mengumpulkan pengurus bermusyawarah dan dalam musyawarah itu, ustadz kampung mengajukan pengunduran dirinya.

Mendengarkan ustadz kampung mau mundur, seorang ketua yang juga anggota kepolisian ikut pula mundur. Akhirnya keputusan pun diambil dengan menolak pengunduran diri sang ustadz dan minta kepada penanggung jawab setiap kegiatan agar melaksanakan dengan jujur dan amanah.

Ustadz kampung pun berusaha kembali dengan memunculkan semangat baru dan memunculkan husnuzzhan kepada yang lain.
Tapi sayang… ketidak jujuran itu berulang lagi dan tercium oleh sang bupati yang baru saja membuat pakta integritas yang akhirnya membawa beliau mendapat penghargaan “anti korupsi”.
Berkali-kali nasehat ustadz muda tak juga didengar. Akhirnya tak ada jalan lain bagi sang ustadz melainkan berangkat menemui bupati dengan rasa malu menyampaikan apa yang terasa di hatinya.

Ketika ustadz kampung sampai di kantor bupati, sang bupati baru saja turun dari kantornya hendak menuju ke kampung kelahirannya.

Ustadz kampung pun mengutarakan maksudnya yaitu ingin membicarakan tentang uang satu milyar lebih.

Kata bupati, “ustadz tidak tergesa-gesa kan ?”. “Tidak” kata sang ustadz.

“Kalau tidak tergesa, ayo temani saya saja ke kampung sebentar, nanti kita bicara di atas mobil saja”, Kata bupati,

Setelah berada di atas mobil, bupati bertanya, “ada apa ustadz ?”.

Ustadz muda itu menjawab, “saya malu mengutarakannya karena ini terkait dengan wibawa ulama. Namun setelah saya timbang, kalau dibiarkan terus sedangkan saya tidak mampu merubahnya, bahayanya jauh lebih besar. Bisa saja satu ekor kerbau yang berkubang, satu kandang kena lumpurnya. Tak usah bapak tanya siapa dan mengapa tapi cukup bapak selidiki saja kebenarannya melalui orang yang bapak percayai. Kalau bapak temukan kebenarannya maka saya mohon, tarik saja kembali sisa uang satu milyar itu, karena itu uang rakyat !”.

Walaupun persoalan ini sedikit banyaknya telah terdengar oleh bupati tapi beliau tampaknya tetap terheran-heran sambil bertanya siapa dan kenapa ?

Namun sang ustadz tetap menjawab, “saya sudah katakan kepada bapak, jangan tanya saya, siapa dan kenapa ! Saya hanya minta bapak menyelidikinya dan saya tidak mau kopiah ulama menjadi tanggal karena urusan dunia. Silahkan bapak tanya saya yang lain tentang kajian Islam, saya akan bersaha menjawab tapi tentang masalah itu, cukup sampai di situ penjelasan saya”. Sang bupati pun maklum dan tidak menanyakan lagi.

Rupanya perkataan ustadz kampung tentang uang satu milyar itu teringat terus oleh bupati dan beliau diam-diam menyelidikinya. Satu bulan stelah pembicaraan di atas mobil itu, bupati bertemu dengan ustadz kampung. Beliau pun bertanya, “ustadz apakah ustadz tidak bisa mengingatkan yang lain agar menjaga penggunaan uang itu dengan kejujuran dan amanah sehingga bisa jadi contoh bagi kami yang minim ilmu agama ?”.
Ustadz kampung pun menjawab, “kalau saya masih mampu mengawalnya, saya tak akan bicara dengan bapak”.

“Kalau begitu, terpaksa dana itu ditarik atau bahasa yang agak manis dikembalikan saja ya ustadz ?”, ujar sang bupati.
“Terserah bapak ! Kepercayaan umat kepada kami, jauh lebih berharga dari satu milyar lebih yang bapak titipkan itu. Biarlah satu milyar lebih itu kembali daripada kami kehilangan kehormatan dan kehilangan kepercayaan”, jawab sang ustadz.

Ternyata perkataan bupati itu bukan hanya sekedar ucapan. Seminggu setelah itu, anggaran satu milyar itu tidak bisa lagi digunakan.

Pada suatu sore, setelah menerima berita terhentinya anggaran satu milyar , di malam harinya sang ustadz berdo’a, “ya Allah ! Semoga ini bukanlah keputusan yang salah. Bila hamba-Mu ini tersalah, maafkanlah ya Allah karena Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia. Amiiiin”.

Sayang sekali, uang satu milyar itu harus dikembalikan karena kita tak bisa memikul amanah !!!

(Cuplikan perjalanan dakwah Ustadz Kampung th. 2003-2004 M)

Tulisan Buya Gusrizal Gazahar Dt. palimo Basa tentang ustad kampung yang lainnya :

Facebook Comments

loading...