Waspadai Proyeksi Diri Dalam Menilai Orang Lain

sungguh

Waspadai Proyeksi Diri Dalam Menilai Orang Lain

Penulis : Ns.Hj.Silvia.SKep.MBiomed, Dosen Universitas Fort de Kock Bukittinggi, anggota Dharmawanita Kemenag Kota Bukittinggi

Dalam kehidupan bermasyarakat dan berorganisasi, manusai sebagai makhluk sosial akan selalu melakukan interaksi dengan orang lain. Banyak hal yang terjadi pada saat seseorang melakukan interaksi seperti timbulnya kesalahpahaman, perbedaan pendapat yang tidak jarang kadangkala berujung kepada konflik.
Sebenarnya adanya perbedaan pendapat ataupun pandangan dalam kehidupan itu adalah sebuah peluang agar kita senantiasa menyiapkan diri dalam pendewasaan prilaku, cara pandang dan ketajaman untuk mencarikan solusi terbaik, namun tidak jarang juga berujung kepada sebuah konflik, dimana kita tahu bahwa konflik merupakan gejala sosial yang hadir dalam kehidupan bermasyarakat.

Oleh sebab itu, konflik dan integrasi sosial merupakan gejala yang selalu mengisi setiap kehidupan sosial. Salah satu hal yang memicu timbulnya konflik dan integrasi adalah adanya persamaan dan perbedaan kepentingan sosial.

Pada saat kita dihadapkan pada sebuah situasi yang serba tidak nyaman satu sama lain, dan permasalahan / konflik yang muncul diarahkan kepada kita sebagai penyebabnya, maka upaya yang pertamakali yang harus kita lakukan adalah dengan bersabar dan menganggap hal tersebut adalah ujian agar kita bisa lebih baik untuk masa yang akan datang, itupun jika niat kita pada awalnya adalah baik namun diluar dugaan kita dihadapkan pada permasalahan yang tidak kita inginkan sama sekali.

Namun jika pada awalnya memang ada niat jahat yang terselubung di hati kita, maka tentu saja masalah yang muncul merupakan cobaan dan teguran bagi kita dan bahkan kita seharusnyalah langsung bertaubat dan mengakui semua kesalahan kita.

Dalam hal ini ada suatu hal yang mesti kita pahami dan kontrol disaat menghadapi berbagai kondisi yaitu proyeksi diri. Proyeksi diri merupakan bayangan diri kita yang terlihat dalam cermin. Seperti yang kita ketahui saat kita bercermin, ada satu bayangan yang memantul dari cermin itu, yaitu berupa diri kita sendiri. Demikian juga dengan proyeksi, dimana saat itu kita seperti melihat pikiran dan perasaan orang lain persis seperti apa yang kita pikirkan dan rasakan juga.

Sebenarnya proyeksi merupakan salah satu dari mekanisme pertahanan diri ( Self defense mechanism ) yaitu memproyeksikan apa yang dirasakan dan difikirkan dirinya , namun dipantulkan kepada orang lain.

Seperti yang kita sampaikan diatas, bahwa pada awalnya itu merupakan mekanisme diri sesaat, / normal seperti pada saat dirinya merasa lapar, tiba-tiba dia mengatakan kepada temannya, bahwa temannya lah yang mengajak makan, dan dia secara spontan mengajak temannya makan. Disini dapat kita lihat, bahwa yang lapar itu adalah dirinya sendiri, tetapi diproyeksikan kepada orang lain dengan tujuan untuk menghindari egonya (dirinya) yang saat itu sebenarnya malu mengakui mengakui lapar.

Tetapi mekanisme pertahanan diri ini menjadi tidak normal ketika itu menjadi bagian dari perilaku kita sehari-hari yang selalu dan suka memantulkan sifat dan karakter kita kepada orang lain, karena prilaku seperti ini bisa membawa sesorang kepada prilaku tidak sehat mental, penipu, suka berbohong, agresif dan membahayakan orang lain dan diri.

Kembali kita kepada topik dalam menghadapi konflik diatas, maka pada saat kita mengomentari seseorang waspadailah proyeksi diri kita, karena semakin buruk komentar kita kepada orang lain, sebenarnya yang buruk itu adalah diri kita sendiri.

Begitu juga jika komentar yang buruk itu ditujukan kepada diri kita, maka yakinlah apa yang disampaikannya itu sebenarnya adalah cerminan dari dirinya sendiri yang tidak perlu ditanggapi, tapi anggaplah seperti anjing menggonggong namun kafilah tetap berlalu.

Semoga kita menjadi semakin kuat dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan dengan senantiasa bersabar dan mewaspadai proyeksi diri dalam menilai orang lain. ( wallahu alam )

Tulisan Silvia lainnya :

Facebook Comments

loading...