Rahmah El-Yunusiyyah dan Sebutir Nasi

Kawanan burung menatap jeli.
Siap memamah butir padi.
Sigap pula murid-murid Perguruan Diniyyah Puteri.
Menghalau burung dengan menarik tali.
Tahukah cerita ini?
Puluhan tahun silam, Rahmah El-Yunusiyyah (1900-1969)  mengajak murid-muridnya turun ke sawah. Pekerjaan ini mereka lakukan bukan demi pencitraan di media sosial. Pegang padi dijepret lantas diekspos. Bukan! Mereka benar-benar bercucur peluh dan kaki penuh lumpur. Bukan main malah. Murid-murid diajak bercocok tanam mulai dari menyemai benih. Tak percaya?

Sebelum percaya, kita tentu tahu kalau sebagian besar masyarakat Indonesia mengonsumsi nasi. Nasi yang terhidang di meja makan tak jatuh cuma-cuma dari langit. Tak mungkin ada nasi kalau tak ada beras, tak mungkin ada beras kalau tak ada padi. Ada proses tak sebentar yang niscaya dilalui.

Mari kita simak uraian dalam buku H. Rahmah El-Yunusiyyah dan Zainuddin Labay El-Yunusy: Dua Bersaudara Tokoh Pembaharu Sistem Pendidikan di Indonesia (1991: 82), “…mulai sejak menyemai benih, mencabut dan mengikat benih yang sudah cukup waktunya, kemudian memotong ujung benih yang siap ditanam dan merendamkan uratnya ke dalam air abu dapur (sebagai pupuk), seterusnya turun ke sawah yang sudah selesai dibajak untuk menanam benih yang sudah disiapkan itu 3 atau 4 batang secara berderet lurus ke belakang, empat baris sekali jalan.”

Burung-burung itu jelas kecewa. Selagi butir-butir buah padi mengundang selera makan, ada orang-orangan di sawah yang dikendalikan tali bergerak. Murid-murid Rahmah El-Yunusiyyah tentu tak mau lebih kecewa berat. Capek-capek menanam dan merawat padi sampai berbuah dimakan burung seenaknya. Kalau kita yang malah suka membuang nasi, siapa lebih kecewa?

Rahmah El-Yunusiyyah memahami benar jika makanan apa pun harus dihabiskan. Tak boleh tersisa sedikit pun. Bahkan, Nabi Muhammad Saw pun menganjurkan mengambil makanan yang terjatuh. Kita tak tahu bagian mana yang mengandung keberkahan. Apa yang dianjurkan itu tanpa kecuali. Nasi juga makanan. Kearifan orangtua zaman silam selalu berhati-hati menjaga beras dan tak boleh jatuh di lantai sedikit pun ketika akan menanaknya.

BACA JUGA  Presiden Jokowi Undang Wako Mahyeldi pada Launching Gerakan Nasional Wakaf Uang

Nasi adalah makanan dan sangat mungkin termasuk fakta menggetirkan di Indonesia. Berdasarkan laporan Food Sustainability Index dari The Economist Intelligence Unit (EIU) pada 2017, Indonesia adalah negara pembuang makanan terbesar nomor dua di dunia. Apakah kita prihatin—menurut data tersebut—rata-rata satu orang Indonesia bisa membuang sampai 300 kilogram makanan setiap tahunnya?

Rahmah El-Yunusiyyah mendidik murid-murid bukan sekadar pintar menambah, mengurang, membagi, dan mengali. Dengan berjerih payah di sawah, ia membentuk karakter murid-murid. Rahmah El-Yunusiyyah menanamkan pendidikan kepada murid-murid, sebagaimana tertulis dalam buku H. Rahmah El-Yunusiyyah dan Zainuddin Labay El-Yunusy: Dua Bersaudara Tokoh Pembaharu Pendidikan di Indonesia (1991: 83), “…selalu menghargai setiap suapan nasi yang dimasukkan ke mulut adalah hasil jerih payah para petani dan karunia Allah yang sangat tinggi nilai dan manfaatnya yang oleh karenanya tidak boleh dibuang-buang dan disia-siakan.”

Dari Rahmah El-Yunusiyyah, untuk kita agar lebih menghargai beras dan nasi walaupun sebutir. Berterima kasihlah kepada petani dan siapa pun yang menghadirkan nasi di rumah kita dengan tidak membuangnya percuma. Wallahu a’lam.
(Hendra Sugiantoro, perekam jejak Ibu Pendidikan Indonesia Rahmah El-Yunusiyyah).

Tulisan Hendra Sugiantoro lainnya :

Facebook Comments

Google News