Ketika Masalah Kiamat Dijadikan Konten

Ketika Masalah Kiamat Dijadikan Konten

Oleh: Yurnaldi, wartawan utama dan penulis buku.

Jika kita umroh, maka sepanjang perjalanan darat dari Madinah ke Mekkah atau sebaliknya, dari Mekkah ke Madinah, dan mengitari kawasan tanah haram, kita menemukan banyak bangunan pencakar langit. kiamat

00201 yurnaldi umrah

Bahkan ketika kita naik Menara Jam Mekkah, kita melihat dari ketinggian, berapa kecilnya pusat kiblat ummat Islam di dunia ini.

Kita juga menyaksikan, gurun tandus yang kita kira selama ini, sebagian sudah menghijau. Sepanjang perjalanan kita juga melewati sejumlah terowongan yang menembus perbukitan. Lantas, saya mencermati riuhnya media sosial belakangan ini. Sebuah video viral menyebutkan bahwa lima tanda kiamat telah muncul di Mekkah.

Narasi di media sosial itu cepat menyebar, dikutip berulang, dipercaya tanpa verifikasi, dan menimbulkan kegelisahan kolektif. Bagi sebagian orang, ia terasa sebagai peringatan Ilahi. Bagi yang lain, ia memantik ketakutan.

Namun bagi dunia pers dan ruang publik yang sehat, klaim semacam ini harus ditempatkan secara jernih: di antara iman, fakta, dan tanggung jawab informasi.

00201 jalan makkah

Kiamat adalah keyakinan dasar dalam Islam. Ia bagian dari rukun iman. Tidak ada Muslim yang menafikannya. Namun persoalannya bukan pada apakah kiamat itu ada, melainkan pada bagaimana manusia bersikap terhadap klaim tentang tanda-tandanya.

Pengetahuan Ghaib yang Tidak Pernah Dipublikasikan

Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW dengan tegas menyatakan bahwa waktu kiamat adalah rahasia Allah. Bahkan Rasulullah sendiri tidak mengetahuinya. Dalam konteks ini, setiap klaim yang menyatakan “tanda kiamat sudah pasti terjadi” — apalagi dibatasi jumlahnya, dilokalisasi tempatnya, dan dipastikan waktunya — patut diperlakukan dengan kehati-hatian ekstra.

Islam mengenal tanda-tanda kecil dan besar kiamat. Sebagian memang disebutkan dalam hadis: maraknya fitnah, kerusakan moral, ketimpangan sosial, hingga manusia berlomba meninggikan bangunan. Tetapi hampir seluruh tanda itu bersifat umum, lintas zaman, dan terbuka untuk penafsiran, bukan petunjuk teknis yang bisa divalidasi hanya dengan satu video atau potongan gambar.

BACA JUGA  Lepas Pawai Murid R.A, Kakan Kemenag Kabupaten Solok Pesankan Pentingnya Pendidikan Dini

00201 umrah holiday

Fenomena Alam Bukan Dalil Tunggal

Beberapa hal yang kerap dijadikan “bukti” dalam narasi viral—seperti hujan di Mekkah, tumbuhnya tanaman di wilayah Arab, atau pembangunan masif di sekitar Masjidil Haram—pada dasarnya bisa dijelaskan secara ilmiah dan sosiologis. Perubahan iklim, rekayasa tata kota, dan kebijakan pembangunan tidak otomatis beralih status menjadi tanda ghaib.

Masalah muncul ketika fenomena duniawi dicabut dari konteksnya, lalu ditempelkan secara paksa pada narasi akhir zaman. Di titik inilah iman berisiko direduksi menjadi sensasi.

Antara Dakwah dan Disinformasi

Tidak bisa dipungkiri, sebagian penyebar konten semacam ini mengklaim niat baik: mengingatkan umat agar bertobat. Namun niat baik tidak otomatis membenarkan cara. Ketika pesan agama dikemas secara bombastis, tanpa rujukan yang sahih, tanpa penjelasan ulama yang kredibel, dan tanpa konteks keilmuan, maka ia berpotensi berubah dari dakwah menjadi disinformasi religius.

Lebih berbahaya lagi, ketakutan massal bisa melahirkan sikap fatalistik: merasa semuanya sudah terlambat, enggan memperbaiki dunia, dan pasrah tanpa ikhtiar. Padahal Islam justru menekankan keseimbangan antara iman kepada akhirat dan tanggung jawab memakmurkan bumi.

00201 jam makkah 1

Sikap yang Lebih Dewasa

Catatan ini tidak bertujuan meremehkan keimanan siapa pun. Justru sebaliknya: mengajak publik bersikap lebih dewasa dalam beragama dan bermedia. Meyakini kiamat tidak harus berarti mempercayai semua klaim tentang tanda-tandanya. Menjadi Muslim yang taat tidak identik dengan menjadi konsumen pasif konten viral.

Iman tidak tumbuh dari ketakutan yang dibangun algoritma, melainkan dari ilmu, amal, dan kesadaran etis.

Kiamat pasti datang. Cepat atau lambat. Tetapi menjadikannya komoditas viral tanpa pijakan ilmu adalah bentuk penyempitan makna agama itu sendiri. Yang lebih penting dari menebak tanda-tanda kiamat adalah menyiapkan diri sebagai manusia yang adil, jujur, dan bertanggung jawab—hari ini, di dunia nyata.

BACA JUGA  KKPM Sumbar 2022 Berakhir, Hujan Warnai Pelaksanaannya

Karena jika kiamat belum datang, kita masih punya kewajiban menjaga akal sehat, iman yang jernih, dan ruang publik yang tidak dikuasai oleh ketakutan semu. (Foto foto: yurnaldi dan Holiday Bumi Alam Surambi )

Baca Juga :

Facebook Comments

Google News