Di Arafah, Kita Belajar Lupa Nama — Tapi Mengapa di Negeri Ini Kita Sibuk Menuliskannya?
Oleh Yurnaldi
Arafah adalah ruang paling jujur dalam ibadah haji. Di sanalah manusia berhenti menjadi siapa pun—pejabat, tokoh, orang besar—dan kembali menjadi dirinya yang paling telanjang. Karena itu puncak haji bukan diisi dengan gerak, tetapi dengan diam.
Bukan dengan simbol, tetapi dengan kesadaran.
Namun ada ironi yang sulit dihindari. Di Jabal Rahmah, tempat yang dipercaya sebagai lokasi pertemuan kembali Nabi Adam dan Siti Hawa setelah taubat, batu-batu justru dipenuhi coretan nama. Inisial. Tanggal. Penanda kehadiran.

Di tempat penghapusan diri, manusia ingin dikenang.
Ironi kecil ini sejatinya mencerminkan ironi yang lebih besar dalam kehidupan sosial dan kebangsaan kita. Kita hidup di negeri yang seharusnya dibangun di atas pengabdian, tetapi justru sibuk dengan pencatatan nama. Proyek harus ada prasasti. Kebijakan harus memuat tanda tangan. Kebaikan harus disertai klaim.
Seperti coretan di Jabal Rahmah, banyak hal di negeri ini dilakukan bukan semata untuk manfaat, melainkan agar tercatat.
Padahal kisah Adam dan Hawa—jika dibaca secara etis—adalah pelajaran pertama tentang kepemimpinan dan tanggung jawab. Tidak ada saling menyalahkan. Tidak ada pencitraan. Tidak ada upaya menyelamatkan nama baik. Yang ada hanya pengakuan jujur: kami telah menzalimi diri kami sendiri.Dari pengakuan itulah peradaban manusia dimulai kembali.
Arafah mengajarkan bahwa kesalahan diakui, bukan ditutupi. Bahwa pemulihan lahir dari kerendahan hati, bukan dari narasi pembenaran. Nilai ini terasa semakin langka dalam ruang publik kita hari ini—ketika kegagalan sering disamarkan, kritik dianggap ancaman, dan pengakuan salah dipersepsi sebagai kelemahan.
Coretan di Jabal Rahmah bukan sekadar vandalisme. Ia metafora tentang cara kita memaknai keberadaan: selalu ingin meninggalkan tanda, meski tempat itu mengajarkan sebaliknya. Di tingkat kebangsaan, mentalitas ini menjelma dalam banyak rupa—politik pencitraan, birokrasi yang sibuk laporan tapi miskin dampak, dan kepemimpinan yang lebih peduli pada warisan nama daripada warisan nilai.
Padahal bangsa, seperti ibadah, tidak dibangun oleh siapa yang paling terlihat, tetapi oleh siapa yang paling tulus bekerja. Rahmat—baik dalam agama maupun dalam kehidupan bernegara—tidak pernah meminta bukti visual. Ia lahir dari kejujuran, dari kesediaan mendengar, dari keberanian mengakui salah dan memperbaiki arah. Tanpa itu, yang tersisa hanyalah jejak-jejak kosong: nama di batu, slogan di baliho, janji di pidato.
Arafah mengajarkan satu hal yang relevan bagi siapa pun yang memegang amanah publik: pada akhirnya, yang diuji bukan seberapa besar nama kita, melainkan seberapa jujur kita di hadapan tanggung jawab.

Mungkin sudah waktunya kita membaca ulang pesan Arafah—bukan hanya sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai cermin kebangsaan. Bahwa negeri ini tidak membutuhkan lebih banyak nama yang ditulis besar-besar, melainkan lebih banyak ego yang bersedia dihapus.
Di Arafah, manusia belajar lupa nama agar diselamatkan. Di negeri ini, barangkali kita juga perlu belajar hal yang sama.
Baca Juga :
- Baqi, Jiwa Madinah yang Tak Pernah Dipindahkan
- Ziarah ke Baqi’, Pesan Kesederhanaan Diakhir Hayat
- Ketika “Pohon Sukarno” Hijaukan Makkah
- Pelajaran Terpenting dari Merpati-Mepati Madinah
- Masjid Ali, Masjid Tanpa Merpati di Madinah
- Disela Arbain, Jemaah Haji Solok Kunjungi Masjid Bersejarah di Madinah
- Ziarah di Madinah, Jemaah Haji Solok Napak Tilas Perjuangan Rasulullah
- Sakralnya Raudhah, Air Mata Menitik Dalam Doa
- 7 Destinasi Ziarah Yang Ada di Kota Madinah
- Jumat Berkah di Madinah, Jamaah Umrah Solok Bertemu Jamaah Haji Padang Panjang



Facebook Comments