Penutupan Pasar Payakumbuh Ricuh

286
nutup
SuhaNews. Jumat Sore (22/5), bentrok perseteruan dari dua kepentingan yang terjadi antara Pedagang Pasar Payakumbuh dengan Tim Gugus Covid 19 mencapai puncaknya. Kericuhan dipicu penutupan pasar Payakumbuh sebagai upaya memutus mata rantai Covid-19.

Dialog antara Tim Gugus Tugas dan Pedagang sebagai upaya mencari titik tengah menemui jalan buntu. Ratusan pedagang mengamuk dan membongkar paksa pagar pengaman yang membatasi Jalur Tengah Bawah Kanopi pusat Pasar Payakumbuh yang sempat dipasang oleh aparat pada pagi harinya.

Tidak diketahui siapa yang memulai, para pedagang yang turun ke jalur tengah bawah kanopi membuka paksa pagar pengaman yang terpasang sejak pagi harinya. Pedagang mengamuk dan merengsek maju menerobos barisan aparat dan berhasil membongkar paksa pagar pengaman.

Aksi tersebut terjadi dilatar belakangi,  para pedagang menolak penutupan psar Payakumbuh pada dua hari menjelang lebaran. Bagi pedagang, penutupan dan pembatasan orang masuk ke dalam pasar sama saja membunuh mata pencarian mereka.

Berita Terkait :

Sebelumnya Jumat pagi hari, riak riak protes pedagang sudah mulai muncul dengan ditandai adanya aksi main bola kaki di jalanan bawah Kanopi yang dilakukan oleh kaum emak emak. Aksi tersebut mereka lakukan sebagai bentuk protes kepada Pemko dan aparat terkait penutupan jalur tersebut.

Menurut salah satu pedagang yang namanya enggan ditulis, mengatakan jika penutupan jalur tengah bawah Kanopi pusat pasar payakumbuh adalah sebagai bentuk tidak manusiawi dari pemerintah. Dijelaskannya disaat para pedagang berharap akan mendapat rezeki di saat dua hari menjelang lebaran, Pemerintah serta aparat sengaja menutup akses jalur tengah demi mencari pencitraan semata, tuturnya.

Sementara itu, Kasatpol PP Kota Payakumbuh Davitra yang berada di lokasi saat peristiwa kericuhan terjadi, menolak jika dikatakan penutupan akses jalan Ahmad Yani tersebut dikatakan sebagai perbuatan tidak manusiawi. Menurutnya hal tersebut terpaksa dilakukan oleh Pemko Payakumbuh terkait membludaknya para pengunjung pasar di tengah pandemi Covid 19.

nutup

Davitra menjelaskan saat ini Wilayah Sumbar Umumnya masih berlaku masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Termasuk di Kota Payakumbuh, tuturnya. Dalam aturan tersebut, jelas berdasarkan Keputusan Mentri Kesehatan dilarang terjadinya kerumunan massa di satu tempat demi memutus mata rantai penyebaran wabah Corona.

Kasatpol PP mengatakan, saat ini di Kota Payakumbuh serta daerah tetangga lainnya sudah terdapat belasan orang yang positif terjangkit virus berbahaya tersebut. Seandainya Pemko Payakumbuh membiarkan saja pusat pasar dipenuhi oleh orang orang yang tidak diketahui datangnya dari daerah mana masuk ke areal lokasi pasar, lalau dimata letak tanggung jawab Pemerintah terhadap Keselamatan warganya.

Terkait pemberian pagar pembatas pasar, bukan berarti Pemko melarang pedagang untuk mencari nafkah, namun hanya sebagai bentuk pengamanan dan pencegahan dini dari pandemi Covid 19, tutupnya menjelaskan.

editor : Lim sumber Sumbartime. Com

Baca Juga:

Facebook Comments

loading...