Encik Nanisah, nama ini asing bagi publik di Ranah Minang. Perempuan ini tak terkenal, namun namanya melekat dalam buku tak lekang zaman. Adalah Hendra Sugiantoro, penulis buku Rahmah El-Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia, mengajak masyarakat Sumatera Barat mengenang.
Dalam Ayahku (1982: 265), Buya Hamka menulis:
“…maka Rahmah El-Yunusiyyah, adik Zainuddin Labay El-Yunusy, datang pula bersama kawan-kawannya belajar kepada beliau (baca: Haji Rasul) di rumahnya. Baik seketika beliau masih tinggal di Jembatan Besi, atau setelah beliau pindah ke Gatangan. Di antara yang turut belajar pada waktu itu ialah Rasuna Said, Nanisah, dan Upik Japang. Dan Rahmah yang menjadi pemimpinnya.”
Nama Rasuna Said ditaruh di muka, sebab tokoh lebih populer. Dari usia, Rasuna Said yang paling muda. Perempuan yang belajar kepada Haji Rasul kemungkinan lebih banyak daripada yang dikenal Hamka. Upik Japang yang dimaksud adalah Djawana Basyir.
Nanisah dalam catatan Hamka yang lain ditulis Sitti Nanisah orang Sungai Buluh Bukittinggi. Tak jelas kapan Nanisah lahir. Usianya bisa dikatakan sebaya dengan Rahmah. Ia termasuk murid kelas tinggi di Diniyyah School yang didirikan Zainuddin Labay.
Rahmah bersahabat setia dengan Nanisah yang juga sebagai pengurus Persatuan Murid-murid Diniyyah School (PMDS). Bersama Djawana Basyir dan Dawirsah, Rahmah dan Nanisah menderapkan langkah dalam pemberantasan buta huruf bagi kaum ibu. Pendidikan aksara yang dilakukan ini dikenal dengan Menjesal School.
Rahmah tentu tak pernah mengira bakal kehilangan kawan karibnya. Dalam kejadian gempa itu, Nanisah tertimpa reruntuhan.
Bumi bergoyang pada 28 Juni 1926 itu memang memporak-porandakan segala. Haji Rasul dan Abdullah Ahmad sampai dibuat lupa telah mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar. Kejadian gempa berlangsung dua kali.
Saat kejadian gempa pertama kali belumlah mengakibatkan kerusakan berarti. Murid-murid dan guru Diniyyah School Puteri diperingatkan agar tak sekali-kali mendekati rumah batu. Bangunan yang disewa untuk sekolah ini bertingkat dua.
Dalam buku Peringatan 15 Tahun Diniyyah Puteri Padang Panjang diterangkan:
“Akan tetapi kalau adjal meminta, semoea peringatan tak berguna lagi. Dan gempa jang kedoea kalinya jang menghantjoerkan P. Pandjang itoe, mengambil korban seorang goeroe Al
Madrasatoe’ddinijjah (peladjar poeteri D.S) berasal dari Boelan Gadang Banoe Hampoe (Agam) jaitoe entjik Nanisah.”
Bagaimana peristiwa gempa itu menjadi takdir kematian Nanisah?
Mayat Nanisah ditemukan sehari setelah gempa. Ia tertimbun reruntuhan batu dari bangunan tempat belajar-mengajar.
Nanisah telah tiada sebelum Rahmah menjadi tokoh pendidik hebat. Ia jelas tak menyangka jika perguruan yang dirintis sahabat karibnya itu akan terus tegak seabad lebih. Wallahu a’lam.
Tulisan Hendra Sugiantoro lainnya :
- Zainuddin Labay (1890-10 Juli 1924): Jejak Kenangan (2)
- Zainuddin Labay (1890-10 Juli 1924): Jejak Kenangan (1)
- In Memoriam Zainuddin Labay, Tokoh Besar Itu Pergi 2 Hari Jelang Idul Adha
- Malam Idul Adha 52 Tahun Lalu, Rahmah El Yunusiyyah Wafat
- Mengenal Rahmah el Yunusiah, Ibu Pendidikan Indonesia
- Catatan Sejarah Perang Kemerdekaan, Belanda Lari Tunggang-Langgang, Peran Perguruan Diniyyah Puteri
- Covid-19 dan Relevansi Pemikiran Rahmah El-Yunusiyyah



Facebook Comments