Kampung Rambutan Diujung Ramadan
cerpen : Fendi Moentjak
“Udah itu aja lagunya mas, jangan diganti, itu lagu kesukaan Bapakku, beliau selalu perdengarkan itu ke kami tiap kali nelpon,” celetuk ibu muda yang jadi penumpangku pagi ini bersama keluarganya.
Dengan berat hati, menghela nafas aku menyembunyikan galau dihati, ku putar lagi lagu yang membuat air mataku menitik. Kusembunyikan sabak dimata dibalik kaca mata hitam yang kukenakan sejak tadi.
Makin teriris hatiku, saat ibu muda ini dan anaknya yang mungkin masih TK ikut bernyanyi mengikuti lagu dari sound mobilku.

Pagi ini aku masih fit, belum terasa letih meski menembus macet padatnya jalan dari Cililitan menuju Kampung Rambutan. Namun jiwaku lelah oleh nyanyian duo baranak ini. Ingin ku minta mereka berhenti melagu, namun aku tak tega, lagian kalau mereka tak terima malah aku dikasih bintang satu.
“Mi, itu bis yang bawa kita ke kampung Mi, bis itu yang bawa kita ke rumah Anduang kan Mi,” anaknya berhenti bernyanyi dengan girang ia menunjuk ketika sebuah bus tujuan Sumatera menyalip mobilku dan berbelok masuk terminal.
Ocehan bocah itu kembali mengusik hatiku, ia tak tahu gemuruh didada menguat tiap kali melihat dan berpapasan dengan bus yang ditunjuknya, namun profesional akan tugas membuatku menahan rasa itu.
Dalam arus lalu lintas yang melambat masuk terminal, ku dengar ocehan anak dan jawaban ibunya yang mereka-reka bahagia berlebaran di kampung bertemu orangtua, sanak keluarga, menikmati suasana penuh kehangatan yang dirindu semua anak rantau.
“Lai rami sewa Da ? dak langsung se ka Padang ?” Fauzan pengemudi bus Antar Kota tujuan Ranah Minang itu menyapa saat ku turunkan koper dan bawaan penumpangku disamping bus di jalur keberangkatan.
“Eh Fauzan, sudah dengan bus ini sekarang ? Alhamdulillah ada peningkatan dapat armada baru, mewah lagi,” jawabku setengah kaget, tiba-tiba Fauzan sudah membantuku menurunkan barang-barang.
“Alhamdulillah Da, sudah trip yang ketiga dengan sekarang bersama bus ini, doakan rasaki adik uda lancar dengan bus ini, uda apa kabar ? banyak sewanya kan ? sebentar lagi Jakarta lengang Da, pasti sepi order, pulanglah silau Ranah Minang,” ujar Fauzan yang ku kenal saat kami sama-sama narik oplet di Tanah Abang belasan tahun yang lalu, meski tak sekampung, namun rasa sesama orang Minang membuat kami akrab.
Meski sudah berbeda lahan, profesi kami masih sama dan tak jarang pula Fauzan mengoper sewa dari penumpang busnya kepadaku untuk diantar sesuai alamat mereka.
“Urang Awak juga ternyata, pantesan lagu minang dari tadi,” ibu muda penumpangku tadi memutus pembicaraanku dengan Fauzan, yang kujawab dengan senyuman.
“Yang tadi itu lagu kebangsaan kita Anak Rantau kan Da ?” ia sudah merubah panggilannya jadi Uda karena tahu sama-sama dari Ranah Minang.
“Ka dalam jatuah aia mato dek lagu tu Ni,” jawabku saat menyodorkan kembalian ongkosnya.
“Ambil saja, mungkin cuma cukup untuk beli pabukoan, ini Da, tando wak sakampuang, tambahan beli bensin, ambillah ini rezeki Uda, semoga kita semua diberkahi Allah, doakan kami selamat sampai di kampung dan Uda lancar usahanya,” ia menambahkan dua lembar seratus ribuan saat menolak kembalian ongkosnya.
Setelah berbasa-basi, akupun pamit dengannya serta Fauzan yang sudah disibukan dengan aktivitasnya mempersiapkan keberangkatan menuju Ranah Minang, kampung halamanku.
Entah apa yang aku rasakan, aku sendiri tak tau apa yang akan diceritakan. Keluar dari jalur keberangkatan terminal Kampung Rambutan, aku menepi menenangkan diri.
“Alhamdulillah ya Allah pagi ini Engkau pertemukan aku dengan orang baik, semoga berkah dan mudahkanlah perjalanan dan rezkinya ya Allah,” gumamku sambil memegang uang yang tadi kuterima dari penumpang.
Dalam lamunanku menerawang tentang pengalaman pagi ini, lagu yang tadi ku diminta penumpangku kembali mengalun dari audio mobil. Tak lagi kuganti seperti tadi, tapi ku nikmati, ku resapi, hingga yang tadinya sabak kini menjadi butiran bening jatuh ke pipi.
Terbayang Mande di kampung, sudah kali kelima dengan sekarang kami tak bertemu. Berawal saat pandemi yang membatasi pergerakan, membuat aku sekeluarga tak bisa pulang kampung menebus rindu memeluk Mande, mencabuti rumput di pusara ayah, bercengkarama dengan para kamanakan serta bercerita dengan adik-adik yang dulu sering menangis karena usilku.
Dulu sebelum kehidupan sesulit ini, rutin tiap tahun kami jelang Mande di Ranah Minang. Kerinduan pada pelukan pertama disertai usapan Mande dikepala ini begitu kami bersimpuh pada Mande, adalah hal yang paling kunanti selama puluhan tahun merantau, dan tahun ini kerinduan itu mesti berlanjut.
Aku makin terpukul saat teringat Mande yang tak pernah lupa denganku, lima tahun aku tak pulang, tapi kiriman Rendang dan makanan kesukaanku selalu datang. Walau tanpa pesan dan tulisan dikemasannya, cukuplah bagiku untuk tahu itu semua buah rindu yang dibuat dengan komposisi kasih sayang.
“Lah sampai kiriman Mande nak, jan lupo sumbayang, doakan Abak,” itu kalimat wajib Mande saat ku kabari Rendangnya telah sampai.
Puluhan tahun merantau di ibu kota, akupun pernah merasakan nikmatnya berlebaran di kampung, bersimpuh di kaki mande sepuluag solat Id, bergurau dengan dunsanak dan teman masa kecil. Kembali ke rantau dilepas dengan lambaian haru dan pelukan seiring isak tangis Mande.
Menjalani teriknya matahari Ibukota diantara debu asap kendaraan, masih melambaikan tangan memanggil penumpang hingga kemudian akupun berjodoh dengan orang sekampung yang masih kerabat dari Abak.
Allahpun menunjukan kuasanya, setelah berumah tangga ekonomiku membaik. Selain menarik angkot, istriku berjualan kaki lima yang dengan keikhlasannya sebagai pendampingku dimudahkan Allah memiliku toko pakaian sendiri sampai akupun kemudian bisa memiliki Angkot sendiri.
Namun namanya hidup selalu berputar, ekonomi berubah. Berdagang tak lagi seperti dulu, begitu juga dengan bisnis angkutan kota yang membuatku memutar haluan menjadi taxi online. Bersyukurnya, saat kehidupan sedang baik Abak dan Mande pernah berkunjung ke Jakarta, walau belum terbayar pengorbanan keduanya, melihat mereka bahagia, akupun senang.
Kini semua berubah, bukan cuma aku yang merasakan, tapi juga yang lainnya. meski masih ada yang lebih beruntung.
Kuganti model audio menjadi Radio untuk mencari informasi terbaru di ibukota dan kondisi jalanan yang masih diwarnai macet, meski sudah banyak warganya yang berangkat mudik. rambutan rambutan rambutan
Semenjak Ayah yang kupanggil Abak tiada sepuluh tahun lalu, Mande buah rinduku. Pesan untuk tidak meninggalkan solat dan selalu mendoakan Abak adalah pelajaran buat kami anak-anaknya, meski raga terpisah kiriman doa adalah pengikat cinta.
“Mande…….” gumamku getir.

Lamunanku dikejutkan sapaan klakson bus yang melintas, itu bus yang dikemudikan Fauzan dan ditumpangi wanita muda bersama anaknya yang tadi jadi penumpangku. rambutan rambutan rambutan rambutan rambutan rambutan
Kuraih handphone yang dari tadi terselip di kantong pintu kiri. “Ya Uda, kenapa ada masalah,” lembut suara istriku diseberang sana.
“Nggak ada apa-apa, baru dapat satu trip ke Kampung Rambutan pagi ini,” jawabku singkat.
Ia terdengar girang mendengarku ke terminal Kampung Rambutan, beragam tanya dilontarkan yang ujungnya seperti biasa ada doa diujung ocehannya.
“Semoga kita juga punya rezeki dan pulang kampung pula ya Da,” ia yang sepertinya tau apa yang kurasakan memberikan kalimat penyemangat itu yang justru menjuluk tangis yang sejak tadi ku tahan.
“Kita rayo di rantau lagi sayang.. maafkan uda belum bisa membawamu bersimpuh di kaki ibu dan ayahmu, bersimpuh di kaki mande dan melihat dunsanak kita,” seiring kalimat itu air mataku tumpah, di radio takbir menggema pertanda Idul Fitri sudah tiba.
Koto Baru, ujung Ramadhan 1447 H
Baca Juga :
- Isak Mande, Himbau Mak Adang Pulang
- Senja Terakhir 2025 di Jam Gadang
- Dua Pusara Merindu Diujung September
- Kabar Tengah Malam, Air Mata Mak Adang dari Perantauan
- Ratok Rukayah, Rindu Tergadai di Bilik Rantau
- Ratok Rukayah, Lebaran Ini Ia Tak Pulang
- Kupiah Usang, Cita Terbengkalai Karena Cinta
- Marawa Tagak Dirantau, Tangis Pilu Tek Siti di Bulan April
- “Om” Bukan Mamak, Air Mata Zurhaya dan Fatima
- Mak Katik



Facebook Comments