Dua Pusara Merindu Diujung September
cerpen : Fendi Montjak
Termenung Aya mendengarkan alunan lagu “Taragak Pulang” yang kemarin sore dikirim Tek Uci. Entah sudah berapa kali link youtube yang dinyanyikan dua gadis sebanyanya diiringi gitar akuistik diputar hingga tak terasa sekarang sudah dini hari.
“Etek kangen kamu nak, namun etek belum ada kesempatan mendatangai Aya, tak cuma etek, adik-adik dan dunsanak yang lain juga kangen Aya, Nak.. diujung bulan ini tepat dua puluh lima tahun Umi pergi dan dua puluh delapan tahun Ayah dipanggil yang kuasa..” kalimat itu tak berlanjut hanya isak Tek Uci dan air mata terlihat di video call menjelang magrib itu.
Setelah berpamitan seiring azan magrib, komunikasipun terputus. Usai solat kata-kata Tek Uci yang penuh kerinduan menghiasi relung hati Aya yang mempengaruhi pikirannya, memarahi dirinya yang begitu egois tak mau menyilau tanah kelahirannya.
“Selain etek yang tak pernah pudar rindu dan sayang padamu, ada pusara Umi dan Ayah yang telah puluhan tahun menunggu jarimu menyabuti rumputnya, menyusun batu yang berserak tergerus hujan dan menanti tadahan tanganmu berdoa di nisannya,” kalimat ini paling memukul.
Memang, sejak berangkat dari kampung dua puluh silam Aya tak ada pulang, ia habiskan masa kecil hingga dewasa dirantau bersama kakak tertua Uminya. Setelah Umi wafat diusianya menginjak enam tahun, Aya kecil jadi yatim piatu, sebelumnya sang Ayah meninggalkannya di usia tiga tahun.
Setahun diasuh Tek Uci, Aya dibawa merantau, namun komunikasi tak terputus. Tak jarang pula Tek Uci datang ke rantau menemuinya hingga Tek Uci menikahpun masih ia kunjungi Aya dengan sejuta rindu dan cerita saat masih ada Umi.
Ayapun tertidur di sajadah masih pakai mukenah dan hape ditangan, ia tersentak oleh mimpi menyuruh pulang.
Usai tahajud, Aya putuskan untuk pulang kampung. Semua disiapkan termasuk izin cuti yang sudah di emailkan ke kantor. Usai subuh iapun keluar kamar lengkap dengan koper dan tasnya yang disambut heran Mak Wo.
Wanita beranjak tua itupun tak kuasa menahan, dengan pelukan dan air mata dilepas Aya menuju bandara pagi itu.
Aya masih terpaku mendengarkan alunan musik yang mengiringi lagu Minangkabau mengalun lembut dari speaker mobil yang ditumpanginya. Dengan cekatan anak muda yang menjadi sopir memainkan kemudi diantara liku jalan menuju kampung yang telah dua puluh tahun lebih ditinggalkannya
Selama itu pula Aya menyandang status yatim piatu setelah sang Bunda yang dipanggilnya Umi berpulang ke rahmatullah menyusul ayahnya yang tiga tahun lebih dulu menemui sang pencipta. Kedua cintanya ini sama-sama pergi di bulan yang sama, mungkin ini ikatan hati keduanya meski tak satu makam, namun ada waktu yang menautkan.
“Uni, telah sampai,” suara sopir travel yang membawa Aya dari bandara sentakan lamunannya.
Benar saja, saat melihat keluar tampak Tek Uci telah menunggu dengan senyum khasnya bersama Tek Ani. Anduang dan Dua wanita itu yang jadi penyemangat setelah kepergian Umi.
Tek Uci adalah adik Umi, sejak kecil Aya dekat dengannya apalagi Tek Uci dan sama-sama aktif mengelola surau tempat anak-anak belajar mengaji di kampung kecil yang tersuruk di kaki Bukit Barisan ini.
Sedang Tek Ani, istri dari Mamak / Kakak Lelaki Umi yang semenjak Aya yatim piatu juga tak kurang perhatiannya dan selalu memanjakan seperti anak kandungnya sendiri.
Diapit Tek Uci dan Tek Ani, Aya menyusuri jalan setapak yang telah lama tak dilaluinya. Pematang yang lebih lebar dari biasanya dan hanya dilewati sepeda motor. Sambil bernostalgia tiga beranak itu menyusurinya diikuti dua bocah anak Tek Uci membawakan koper dan tas Aya.
Saat melintasi jembatan kecil yang disebut Titi, tak terasa air matanya menitik. Terkenang kembali bagaimana dulu ia melewati jembatan bersama Umi jika hendak ke warung untuk jajan atau menuju jalan raya.
Walau masih tiga tahun, namun samar terbayang bagaimana dulu Aya dipundak Ayahnya, sementara Uminya memegang dari belakang saat keluarga kecil itu melintasi titi (jembatankecil) menuju kediaman mereka diseberang sungai kecil nan asri dibawah rindangnya pohon dan pebukitan. Sambil bercengkrama keluarga kecil itu melewati Titi dari bambu yang diikat kawat saat dilewati bergoyang dan terkadang berayun.
Sampai di seberang langkah Aya terhenti, hamparan sawah berjenjang yang selalu hadir dalam bayangan rindunya tak banyak berubah dari dua puluh tahun lalu saat ia tinggalkan kampung ini.
Batu besar diantara pematang juga masih kokoh berdiri seakan menanti Aya pulang dengan setia. Ia lepaskan pegangan tangan Tek Uci, Aya melintasi pematang menuju batu penuh kenangan itu.
Sambil berlinang air mata, Aya terkenang dulu saat ia kecil duduk di Batu ini, sementara Uminya mengajarkan santri-santri Surau belajar Fiqih dan pelajaran lainnya saat mereka melakukan kelas alam. Dan ditepi sungai diantara bebatuan dan air jernih Tek Uci membimbing santri menghafal Al Qur’an.
Tak jarang Uminya berhenti mengajar hanya karena rengekan manjanya dari atas batu tempatnya duduk ditemani beberapa kue dan sebotol air serta sebuah boneka yang hingga sekarang masih disimpannya sebagai saksi bagaimana dulu manjanya Aya dan Umi disela sibuknya Umi menjadi guru mengaji.
Kala istirahat belajar, para santri diberi waktu untuk bermain. Ayapun diikutkan berlarian di sepanjang sawah yang siap panen itu. Pernah juga ia menangis karena jatuh di sawah siap panen yang sisa jeraminya tajam hingga membuat kaki kecilnya terluka.
Semakin ia kitari pemandangan disekitar batu ini semakin deras air matanya, tanpa ia sadari ujung jilbabnya menyeka pipi berlinang butiran bening itu.
Disela jari saat mengusap mata, pandangan Aya tertumbuk pada sebuah bangunan usang berwarna kuning di ujung sawah di kaki bukit. Meski mulai rapuh ia masih berdiri kokoh.
Itu lah surau, tempat Umi mengabdikan diri sebagai guru mengaji bersama Tek Uci hingga keduanya dipanggil ustadzah. Bahkan Aya yang masih kecil kadang ikutan pula memanggil sebutan itu dengn lidahnya yang masih cadel.
Kaki Aya pun melangkah mengikuti pandangannya diiringi Tek Uci, sementara Tek Ani telah lebih duluan membawa koper dan tas Aya menuju rumah mereka.
“Ummmiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…..” bibir Aya getir berucap memanggil ibunya tatkala langkahnya sampai di halaman Surau.
Tek Uci yang tadi mengikuti memeluknya, keduanya terisak larut dengan perasaan masing-masing. Ia bisa merasakan bagaimana perasaan Aya, Aya kecil ditinggal ayahnya saat usia tiga tahun. Kemudian dibesarkan oleh Uminya yang mengabdikan diri menjadi guru mengaji sembari mengasuh dan mendidik Aya.
“Banyak kisah Aya sama umi disini Tek,” Aya terisak yang disambut Tek Uci dengan usapan manja.
“Tak hanya Aya, etek juga, disini kita merajut kisah, disini kita punya cerita tentang mengaji, bercanda, menghafal Al Qur’an hingga mendengarkan kisah-kisah teladan yang selalu dibacakan Umi setiap malam minggu dibawah cahaya temaran lampu minyak tanah,” Tek Ucipun larut dalam kenangannya.
“Meski Aya masih kecil, tapi Aya ingat bagaimana di surau ini Umi selalu hadir setiap hari mengajar anak-anak mengaji,” Aya masih larut dalam kenangan masa lalunya.
“Iya.. semoga menjadi amal ibadah dan penerang alam kubur Umi ditambah dengan doa Aya, Umi tenang disana dan pasti sekrang Umi melihat Aya datang,” Tek Uci membujuk Aya, keduanya beranjak dari Surau.
Menuju rumah, keduanya melewati bekas rel yang mulai tertutup rimbunnya rumput dan tumbuhan liar. Saat melompati susunan besi yang masih kokoh disela tanah dan pasir, Aya teringat bagaimana dulu Uminya bercerita, kalau pergi atau pulang sekolah harus memastikan dulu tidak ada kereta api yang lewat, karena kalau ada kereta mereka harus menyisih dulu ke sawah agar tak tertabrak.
Aya kecil yang tak tahu apa itu kereta api hanya bisa mendegar cerita Uminya. Uraian tentang kendaraan yang lebih besar dan panjang dari mobil selalu membuatnya penasaran hingga selalu menanyakan pada Uminya tiap kali lewat rel ini.
Dengan tabah dan penuh kelembutan sesekali candaan, sosok lembut itu akan mengulang cerita tentang Kerata Api sampai Aya puas, yang ujungnya akan ditutup dengan kalimat “nanti kalau Umi ada uang kita pergi ke kota naik kereta api atau kelak Aya sudah besar bawa Umi naik kereta api di kota ya nak,”
“Umiii.. sekarang Aya pulang tapi tak bisa ajak umi ke kota naik kereta Api,” Aya membatin sambil menatap liku rel hingga hilang diujung tikungan tertutup rimbunnnya tumbuhan liar.
Langkah berat Aya karena kenangan masa lalu bergelayut erat di kakinya sampai di rumah masa kecilnya. Kebersamaan dengan Umi hingga ditinggal untuk selamanya menyambut saat ia masuk.
Di ruang tamu berjejer foto masa kecilnya bersama Umi dan foto Tek Uci bersama keluarganya pula. Di pojok ruang tamu ada foto Aya yang masih balita digendong Ayahnya dengan Umi disamping memeluk mesra mereka.
Meski tak hafal betul wajah cinta pertamanya itu, Aya merasakan kehadiran lelaki yang namanya terpatri dalam untaian namanya. Dengan mata basah Aya mengusap foto-foto itu satu persatu.
Tek Uci dan yang lainnya ikut terpaku memperhatikan sikap, gadis yang kini beranjak dewasa itu pulang untuk pertama kalinya setelah yatim piatu ditinggal kedua orangtuanya. Ini pertama kalinya Aya menjejakkan kaki disini setelah dibawa oleh Mak Tuo, kakak tertua Uminya ke rantau melanjutkan pendidikan. Selama itu pula Aya tak mau pulang.
Bukan dendam, tapi Aya kecil hingga remaja tak mau larut melihat kenangan dengan kedua orangtuanya. Ia memilih menjalani hidup dengan Mak Tuo dan menjalani pendidikan hingga kini ia pulang setelah meraih gelar sarjana.
Aya mencermati foto-foto Uminya mulai saat masih kuliah sampai mengabdikan diri menjadi guru mengaji. Ia tersenyum saat di lemari melihat sebuah piala usang dengan Piagam Penghargaan dari pemerintah Propinsi atas prestasi Uminya sebagai Guru Mengaji Teladan.
“Aku bangga sebagai anakmu Umi, In Sya Allah semangat, perjuangan dan keikhlasan pengabdian Umi dapat aku tiru,” senyum Aya dalam harunya.
Sembari mengamati foto dan piagam, Tek Uci menceritakan bagaimana perjuangan Umi dan Tek Uci menghidupkan surau untuk anak-anak belajar mengaji dengan segala aktivitasnya agar mereka betah di surau memperoleh ganjaran sebagai yang terbaik itu.
Apa yang diceritakan Tek Uci tak jauh dari bayangan masa kecilnya yang sering di gendong Umi pergi ke Surau atau saat Umi ada urusan surau ke Kantor Departemen Agama.
Tak terasa cerita kenangan masa lalu itu menyentuh hati Aya. “Tek antarkan Aya ke pusara Umi sekarang..” diraihnya tangan tek Uci.
Dua beranak itu menyusuri pematang menuju pusara Umi. Tak ada cerita, hanya langkah mereka menyapu rumput yang terdengar sesekali disela suara burung. Sesekali Aya mengitari pemadangan sekitarnya, dulu ia pernah melewati jalan setapak dan pematang ini saat Umi mengajaknya ke pusara Ayah sebelum masuk puasa atau lebaran datang. Kini ia didampingi Tek Uci mendatangi dua pusara orang yang dicintainya.
“Umiiii.. Aya datang, Aya rindu Umi…” ratap Aya mengusap nisan bertuliskan nama Uminya.
pusara pusara pusara pusara pusara pusara pusara pusara pusara pusara pusara pusara pusara
Baca Juga :
- Kabar Tengah Malam, Air Mata Mak Adang dari Perantauan
- Ratok Rukayah, Rindu Tergadai di Bilik Rantau
- Ratok Rukayah, Lebaran Ini Ia Tak Pulang
- Kupiah Usang, Cita Terbengkalai Karena Cinta
- Marawa Tagak Dirantau, Tangis Pilu Tek Siti di Bulan April
- “Om” Bukan Mamak, Air Mata Zurhaya dan Fatima
- Mak Katik



Facebook Comments