Senja Terakhir 2025 di Jam Gadang

Senja Terakhir 2025 di Jam Gadang

cerpen : Fendi Moentjak

Tak sabar ku untuk segera sampai di Bukittinggi, pelataran jam gadang membayang dalam ingatanku. Bukan karena keindahan gunung Marapi dan segala ornamen yang menghiasi bangunan bersejarah itu, tapi membayangkan sosok yang akan kucari nanti. senja

“Mama…” tanpa sadar aku bergumam saat mobil yang kutumpangi merangkak pelan ditanjakan Sitinjau Lauik yang sore ini cukup padat.

Aku cuma bisa beristigfar dan berdoa semoga perjalanan ini lancar meski harus menempuh jalan berliku dari Padang ke Bukittinggi melewati Sitinjau Lauik karena Lembah Anai tak bisa dilalui.

Tak henti ku langitkan harapan pada Yang Maha Kuasa agar dipertemukan Mama dan kami bisa bersatu kembali. Tak terasa air mata menitik membayangkan Mama berjuang demi sesuap nasi dihari tuanya di kota wisata itu.

“Ya Allah.. semoga Mama mau ikut denganku dan berkumpul dengan cucu-cucunya,” Aku membatin membayangkan wajah Mama yang telah lebih tiga dekade tak kulihat apalagi kuusap.

Dalam sejuknya udara Lubuk Silasih pikiranku menerawang bagamana dua bulan lalu, Diana teman kecilku di kampung mengabari bertemu Mama di sekitaran Jam Gadang Bukittinggi. Aku seakan tak percaya, namun ia meyakinkan dengan ciri fisik tahi lalat di pipi Mama sebagai ciri khas serta raut wajah dengan mata rada sipit.

“Aku yakin itu Mama kamu Ca, kami bertemu saat anakku jajan jualan yang dibawanya, aku amati aku coba bertanya tentang keluarganya, ia tergagap aku sebut tentang kampung kita tentang keluargamu, ia tampak kikuk dan bergegas mengemasi dagangannya hingga berlalu diantara ramainya pedagang di Jam Gadang,” begitu Diana memulai kabarnya lewat telpon malam itu.

Diana yang penasaran meninggalkan anak dan suaminya hanya untuk mencoba mencari sosok yang membuatnya penasaran. Ia kitari pelataran jam gadang yang banyak pedagang asongan membaur dengan ramainya pengunjung, namun wanita itu telah berlalu dan tak ia temukan.

Sebelum pulang dan meninggalkan jam gadang, Diana sempat bertanya pada pedagang lainnya dan menyebutkan kalau wanita yang diyakini Mamaku itu termasuk orang yang tertutup tidak banyak bicara dengan teman sesama pedagang.

“Cuma mereka bilang Ca, kalau wanita itu tak pernah jualan lewat dari jam enam atau sebelum magrib, dan jualan yang dibawanya itu juga milik orang, ia hanya menjajakan” sambung Diana.

Diana yang bersahabat karib denganku sejak kecil sampai kami berpisah setelah tamat SMA tau apa yang kurasakan dan bagaimana deritaku selama ini.

Saat kunjungan ke Bukittinggi pekan lalu, setelah membeli barang dagangannya di pusat grosir sengaja berkunjung ke Jam Gadang untuk menemui wanita yang diyakininya adalah Mamaku.

Seperti rencananya, meski harus menunggu sore, ia rela lakukan demi aku sahabat sejak kecilnya. Sengaja ia foto dulu dari jarak yang tak begitu jauh dan membuahkan hasil yang kemudian dikirimnya dan membuat kerinduanku makin memuncak. Siang malam wajah itu begelayut manja di mataku, sembari berharap dapat berjumpa dan memeluknya.

Diana kecewa, karena seperti sebelumnya wanita itu menutup diri dan beranjak pergi tak menghiraukan ajakan Diana untuk bicara walau sesaat saja. Sengaja ia habiskan waktunya video call denganku untuk menyampaikan kabar pertemuan yang tak sesuai harapan itu, namun memacu semangatku untuk mencoba mencari wanita sosok yang kurindu.

Indahnya kota Solok di kejauhan dari liku jalan pinggang Gunung Talang, tak bisa kurasakan. Bayangan Mama lebih dari tiga dekade silam terus menghampiriki pikiranku.

BACA JUGA  Prof. Puti Reno Raudha Thaib Lantik Bundo Kanduang Limapuluh Kota

Aku kecil paling dimanja Mama dibanding ketiga kakak-kakakku. Usapan disertai kecupan manja adalah awal kemesraan Mama tiap hari kepadaku yang berlanjut sepanjang hari hingga ditutup dengan pelukan dan cerita pengantar tidur. Tak jarang mereka iri karena merasa tak pernah diperlakukan seperti itu.

Ayah, lelaki cinta pertamaku yang hingga hari ini mempertahankan kesetiaannya pada Mama dan kami, juga tak kalah sayang padaku dan anak-anaknya.

Masih jelas dalam ingatanku, bagaimana Ayah meratukan Mama, meski ia sendiri terlihat lelah pulang bekerja sebagai operator di industri furnitur. Kamipun turut dimanjakan, meski lelah bermandi peluh, Ayah selalu sabar mendengarkan kami berebut cerita. Kakak-kakakku menceritakan pengalaman sekolahnya, sementara aku menceritakan seharian bersama Mama dan dijahili mereka. Sesekali aku kadukan pula tentang perangai temanku Diana dan Rahma yang kuanggap jahat padaku.

Meski bukan keluarga berada, jauh dari berlebih namun kami hidup layak dengan kebutuhan terpenuhi oleh kerja ayah yang seorang buruh.

Tiada badai tiada hujan, Mama menyampaikan keinginannya untuk merantau ke Batam diajak teman masa SMAnya. Aku yang baru masuk SD tak begitu paham, hanya dari penjelasan Mama, beliau akan pergi meninggalkan kami untuk sementara, mencari uang agar kehidupan keluarga lebih baik dan semua anak-anaknya bisa sekolah sampai ke Jakarta.

“Mama mau Ica, Uni, Uda dan Kakak nanti sekolahnya sampai ke Jakarta dekat dengan pak Presiden dan anak-anak Mama jadi orang hebat semua, makanya Mama pergi kerja untuk menambah uang yang Ayah cari,” kalimat itu selalu disampaikan Mama kepadaku untuk meyakinkan hati ini bahwa semua demi masa depan kami.

Tak ada yang mampu mencegah tekad Mama, tidak Ayah yang konon kabarnya menikah dengan Mama karena di jodohkan, tidak Mamak sebagai saudara laki-laki Mama apalagi kakek dan nenek yang mengingatkan Mama tidak lagi muda untuk merantau dengan meninggalkan empat buah hati yang masih kecil.

Aku dalam gendongan Ayah, ketiga kakakku memeluk pinggangnya berurai air mata melepas Mama naik bus menuju Dumai untuk selanjutnya menyeberang ke Batam. Aku yang awalnya biasa saja melihat momen ini, tak berhenti menangis sejak senja hingga pagi yang membuat Ayahpun tak bisa memicingkan mata. Ketiga kakakku pun terlihat sabak dan tiap sebentar menyambangi tangisku dalam pelukan Ayah.

Baru sekarang bisa kurasakan, bagaimana pilunya hati Ayah saat itu. Ditinggalkan istri bersama keempat anak yang masih kecil. Beberapa hari kondisi sulit kami alami, hingga keadaan mereda dengan kedatangan surat pertama dari Mama sepuluh hari kemudian yang mengabarkan telah sampai di Batam dan tengah menunggu mulai bekerja ditempat yang dijanjikan temannya itu.

Waktu berlalu musim berganti, dua tahun pertama itu Mama rutin berkirim surat sesekali disertai foto dirinya di tempat kerja, di rumah kontrakan bersama temannya dan pernah juga sedang di tempat wisata.

Aku yang telah mulai bisa membaca sangat bersemangat menerima surat dari Mama. Berebut kami membacanya dan Ayah dengan setia menemaniku yang terkadang masih menggeja kata dalam surat Mama itu. Hingga kebiasaan itu berkurang dan terus berkurang hingga berubah sampai Mama tak ada kabar pada tahun keempatnya merantau ke pulau Batam.

Bagai hilang tak tentu rimbanya, kami semua mengkhawatirkan Mama. Ayah yang selain bekerja dan mengurus kami empat beradik juga menupayakan mencari informasi tentang Mama. Tapi tak ada yang tahu, termasuk orang kampung kami yang juga sanak keluarganya di Batam.

Aku yang masih kecil bisa melihat kehancuran Ayah, dengan tubuh yang makin kurus dan mulai sakit-sakitan tetap berupaya tegar dan menyemanganti kami. Setelah sempat drop dan dirawat beberapa waktu, Ayah kembali bangkit, demi kami empat anak-anaknya.

BACA JUGA  Untuk Almarhum Ayah Tercinta, Dimas Krisena Rilis “Ayahku Tersayang”

Seorang diri ayah merawat, membesarkan dan menyekolahkan kami. Berlima kami lewati hari-hari berat tanpa Mama. Tak ada Mama yang menunggu kami pulang sekolah dengan makan siang, tak ada yang menyiapkan dan memeriksa perlengkapan sekolah, tak ada yang memastikan kami sudah makan sebelum tidur dan lainnya seperti anak sebaya kami.

Pernah kudapati Ayah terisak tengah malam didapur sambil memasak mie, sedangkan kami sebelumnya dibuatkan Ayah makan malam dengan nasi yang diberikan etek Lina adik Ayah dan lauk ikan hasil tangkapan di kolam nenek.

Tak jarang pula Ayah menghela nafas atas perangai kami beradik kakak, membuat jantungnya berdegup lebih kencang hingga memaksa tekanan darahnya meninggi karena diantara kami tidak ada yang mau mengalah. Sebuah keadaan yang seharusnya dihadapinya bersama Mama.

Dua dekade kondisi itu kami alami, hingga satu persatu dari kami beranjak dewasa dan memahami arti saling menguatkan. Mengerti bahwa keluarga ini tidak sama dengan keluarga teman-teman kami, hingga rasa iba pada Ayah muncul. Bagaimana perasaan lelaki yang beranjak tua membesarkan kami tanpa pendamping dan entah kepada siapa dicurahkannya derita dan sakitnya.

Yang kami tahu, Ayah tegar dan kuat walau kadang kami lihat ada air mata yang tertahan dan pilu yang tak terucap..

Ayah yang kuat dalam kesendiriannya, mampu mengantarkan keempat anaknya menjadi Sarjana. Tiap kali dari kami wisuda, tangis keharuan selalu menyeruak. Puncaknya adalah wisudaku, itu kali pertama kulihat Ayah menangis tanpa bisa lagi menyembunyikan perasaannya.

“Terima kasih anak-anakku, membuat Ayah kuat sampai saat ini, teruslah ada untukku dan hari tuaku, jangan pernah tinggalkan solat dan selalu doakan Mama kalian,” Ayah terisak saat kami berlima berpelukan usai sesi foto keluarga di acara wisudaku.

Lamunanku buyar saat melintasi kota Solok, di SMA favorit kota ini aku pernah praktek lapangan dan bertemu siswa yang kisahnya mirip denganku. Entah siapa yang lebih mujur, orangtuanya wafat saat jadi TKW, sementara aku hingga saat itu tak tahu bagaimana keadaan Mama.

Tiga bulan aku disini, ia jadi orang terdekatku. Tiap hari kami saling berbagi bagaimana menahan rindu dan  tak bertemu dengan Ibu yang melahirkan kami. Tak bisa berbakti di ujung usianya, tak bisa memanjakannya di hari tuanya.

PL berakhir aku kembali kerutinitas dan keluargaku, kembali kurajut kisah sedih tanpa Mama bersama kakak dan Ayahku. Meski dua kakakku telah berkeluarga, kisah sedih  masih menjadi warna dalam kisah kami.

Ketegaran dan kekuatan Ayah membesarkan kami jadi pemicu semangat untuk berbakti padanya. Kesetiaan Ayah menunggu Mama pulang dan memilih sendiri tanpa membuka hati untuk wanita lain membuatku salut sekaligus tertantang, aku harus bisa setia seperti Ayah.

Di pertigaan batas kota Padang Panjang, mobil yang kutumpangi berpapasan dengan bus antar kota dari Riau. Terlintas kembali bagaimana kami dulu menangis dipelukan Ayah melepas Mama naik bus ke Dumai. Hingga setiap nampak bus yang sama, darah berdesir, seakan ada Mama didalamnya.

BACA JUGA  Wabup Candra Serahkan Penghargaan "Ayah Hebat" dari Kemenag Kab. Solok

Sepanjang tanjakan menuju Bukittinggi, sesak di dada makin kuat. Bukan karena bayangan kami hidup tanpa Mama dan merindukan sosoknya yang hilang tanpa kabar selama puluhan tahun.

Bukan diam dan mengikhlaskan, usaha Ayah selama puluhan tahun hingga kami dewasa dan ikut berupaya tak membuahkan hasil.

Namun satu kesamaan di hati kami berlima, Mama masih ada namun entah dimana. Hingga kabar dari Diana membuka lembaran dan semanagat baru dalam kisah rinduku untuk Mama.

Seiring azan Ashar, aku sampai di kota wisata yang sebelumnya entah sudah berapa puluh kali aku kunjungi termasuk dengan suami dan anak-anakku.

Usai solat di musala kecil tak jauh dari Jam Gadang, aku kuatkan hati memulai pencarianku. Satu persatu wanita penjual makanan kuamati. Kususuri semua pelataran taman itu.

Lelah.. rasa itu hinggap setelah hampir dua jam upayaku tak membuahkan hasil.

Namun teringat kesetiaan Ayah dan semangatnya untuk kami, kembali kulangkahkan kaki yang entah untuk berapa kali kulewati setiap celah hingga pedestrian dan taman yang ramai pengunjung dan pedagang.

Pandanganku tertumbuk pada sosok yang tengah melayani beberapa bocah membeli kerupuknya. Perlahan aku dekati, aku amati dan kubandingkan dengan foto yang dikirim Diana.

Meski sudah dibalut keriput, tahi lalat dipipi itu masih melekat erat dalam benakku. Ku yakin wanita inilah sosok yang selama ini kurindu dalam setiap helaan nafasku, selalu kucari setiap kaki ini melangkah

01302 jam gadang

Nafasku makin tak karuan, bukan karena senja mulai diselimuti gerimis. Tapi getir melihatnya bertahan menunggui dagangannya sembari memanggil orang yang lewat didepannya untuk membeli.

Semakin kuat hatiku kalau dugaan Diana tak salah. “Ma..maa….” bibir getir sembari melangkah.

Kupeluk ia dengan tumpahan tangis dibahunya, entah untuk berapa lama. Yang ku tahu ia pun menangis. Tak ada kata diantara kami, hingga orang-orangpun heran.

Lekat ku tatap wajahnya, dalam keriput pipinya, kutemukan keteduhan tatapan seorang ibu.

Diam, terpana, tak ada jawaban, tak ada balasan, hanya tatapan nanar menembus kerumunan orang di pelataran taman menjelang Magrib.

Beragam kata yang kuucap menumpahkan rindu, kurajut kerinduan puluhan tahun dalam isak tangis bersimpuh di kakinya.

“Mama ayo pulang ke rumah kita, Ayah, dan keempat anak Mama selama ini mencari dan merindukan Mama….,” Mama diam tak bergeming, mungkin hatinya seperti yang kurasakan.

“Mama, puluhan hanya kami berlima yang selalu merindukan kehadiran Mama, kini ada cucu-cucu Mama yang ingin dipeluk neneknya,” Bersujud ku di kaki wanita yang melahirkanku di senja terakhir tahun ini, momen akhir penantian panjangku, terbayar rindu selama tiga dekade dan ratusan tanya yang menghantui kemana Mama selama ini.

Baca Juga :

 senja senja senja senja senja senja senja senja senja senja senja senja senja senja senja senja senja

Facebook Comments

Google News