Sembuh dari Covid 19 dengan Merutinkan Baca Shalawat

covid

Sembuh dari Covid 19 dengan Merutinkan Baca Shalawat

Oleh : Yogi Imam Perdana, Lc, M.Ag
Allah SWT akan memudahkan jalan seorang hamba dalam berjuang melawan panyakit selagi dia berusaha untuk melakukan ikhtiar dan taqarrub (pendekatan) kepada Allah SWT. Dan diantara wasilah “taqarrub” itu adalah dengan membaca shalawat kepada Rasulullah SAW (baca: Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad).
Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim Rasulullah SAW bersabda :

ﻣَﻦْ ﺻَﻠَّﻰ ﻋَﻠَﻲَّ ﺻَﻼَﺓً ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﻬَﺎ ﻋَﺸْﺮًﺍ ‏( ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ )

Artinya : “Barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.” (HR Muslim)

Kalau Allah SWT sudah bershalawat kepada kita, maka kita akan dikeluarkan dari kegelapan menuju cahaya kemudian segala kesulitan yang kita hadapi akan dimudahkanNya. Hal itu ditegaskan di dalam al-Qur’an surat al-Ahzab Allah SWT berfirman :

ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﻣَﻠَﺎﺋِﻜَﺘُﻪُ ﻟِﻴُﺨْﺮِﺟَﻜُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ ۚ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺑِﺎﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﺭَﺣِﻴﻤًﺎ

Artinya : “Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab [33] : 43)

Berikut ini penuturan kisah nyata Muhammad Hafiz, seorang mantan penderita Covid 19 yang sembuh dengan merutinkan shalawat 1000 kali per hari dan kebetulan juga teman satu kelas dengan penulis sewaktu ‘aliyah di MAN/ MAKN Koto Baru Padang Panjang :

covid

“Kisah itu bermula ketika saya melaksanakan perjalanan dinas ke Ternate pada tanggal 8 Juli 2020. Ketika kembali ke Jakarta tanggal 10 Juli, besoknya saya mulai merasakan demam.

Kemudian pada tanggal 12-13 Juli saya merasa demam yang disusul dengan sesak nafas, batuk dan flu. Hanya saja sesak nafasnya dalam batas masih bisa saya tahan (padahal waktu itu saya sudah berhenti merokok kurang lebih 2 tahun).

Tanggal 14 Juli, karena gejala-gejala tadi tidak kunjung juga reda, saya beranikan diri ke RSUD Kota Depok yang khusus menangani Covid (waktu itu saya sudah ada firasat terkena covid 19).

Tanggal 14 Juli saya akhirnya masuk ruang IGD dan langsung diadakan rapid test, cek darah keseluruhan dan rontgen.

Besoknya tanggal 15 Juli hasil rapid testnya non reaktif, tapi hasil rontgen ditemukan peradangan di saluran pernafasan. Dokter mendiagnosa bronkitis sehingga saya perlu dirawat dengan status PDP di ruang isolasi PDP.

Tanggal 16 Juli saya di tes Swab, dan besoknya tanggal 17 Juli demam saya sudah agak berkurang tapi masih di kisaran 37.5-37.8 derajat celcius.

Tanggal 18 Juli hasil tes Swabnya keluar dan hasilnya positif Covid.

Di sinilah puncak rasa sakit yg luar biasa bagi saya ketika tahu hasilnya positif. Saya benar-benar tidak kuasa menahan tangis, serasa ajal saya sudah semakin dekat, saya membayangkan anak yang masih kecil dan juga banyak fikiran aneh-aneh lainnya yang muncul.

Siang sampai sore hari air mata pun tak kuasa saya bendung, saya membayangkan dosa yang saya perbuat, membayangkan anak yang masih kecil, membayangkan keluarga serta banyak hal-hal yang lainnya. Semakin saya berfikiran negatif maka semakin lemah fisik ini terasa. Sesak nafas yang samakin berat, dada yang berdeguk semakin kencang, cucuran keringat dingin yang mengalir deras serasa berkumpul semua panyakik itu di tubuh saya.

Tanggal 18 Juli sorenya saya dipindahkan ke ruangan pasien positif, kemudian malamnya dukungan dan do’a berdatangan kepada saya. Mulai dari keluarga, kawan, kerabat dan orang- orang terdekat. Semakin banyak dukungan yang datang membuat saya semakin ikhlas menerima kenyataan yang ada.

Tanggal 19 Juli demam, batuk dan flu sudah mulai hilang, tapi muncul gejala baru, yaitu batuk badarah. Jumlah darah yang keluar tidak banyak, tapi berlanjut sekitar 4-5 hari.

Sesuai dengan saran dari teman saya yang bernama Brisbane agar merutinkan bacaan shalawat, maka setiap selesai shalat saya praktekkan membaca shalawat rutin (beliau menyarankan saya 1000 kali per shalat atau minimal 1000 kali per hari). Ini saya selalu praktekkan walau jumlahnya terkadang tidak sampai 1000.

Tulisan Yogi Imam Perdana, Lc, M.Ag lainnya :

Setelah mencoba merutinkan bacaan shalawat ini, Alhamdulillah berkat taufiq dari Allah SWT betul-betul di luar dugaan saya merasa lebih ringan dari biasanya. Saya betul-betul merasa ada kekuatan baru yang tanpa saya sadari muncul di tubuh saya, tak tahu dari mana asalnya tapi mampu membuat beban yang saya pikul ini serasa lebih ringan.

Sekitar tanggal 22-23 Juli sesak nafas kembali saya rasakan. Dan itu menurut saya lebih parah dari sebelumnya. Karena sampai membuat saya tidak bisa tidur. So2 nya memang di bawah normal tapi alhamdulillah tidak sampai di pasang masker oksigen. Saya diberi obat TEOSAL untuk memperlancar pernafasan.

Alhamdulillah sesak nafas itu akhirnya hilang setelah saya menkonsumsi obat tersebut lebih kurang selama 4 hari.

Tanggal 24 Juli saya rontgen kedua kalinya, alhamdulillah hasilnya semakin membaik, tidak diemukan Pneumonia dan sudah tampak perbaikan (itu bacaan diagnosa dokter).

Tanggal 27 Juli saya melakukan tes Swab kembali, namun hasilnya masih positif. Akan tetapi saya merasa sudah tidak terlalu mengkhawatirkan lagi bagi saya walaupun masih terasa kecewa.

Tanggal 28 Juli saya cek darah untuk yang ke dua kalinya, dan hasilnya Alhamdulillah semakin membaik.

Tanggal 31 Juli sesuai keputusan dokter akhirnya saya diizinkan pulang untuk melanjutkan isolasi mandiri (sesuai Permenkes terbaru NO. HK. 01 .07/MENKES/ 413/2020, lihat photo : surat keterangan). Walau hasil tes swab terkahir masih positif. karena hasil rontgen dan cek darah sudah tampak perbaikan.

Tanggal 31 Juli malam saya isolasi mandiri di rumah dengan kamar yang terpisah dengan anak dan istri. Saya tidak melakukan kontak fisik dengan mereka, alat makan dan mandi saya dibedakan meskipun toilet masih sama tapi langsung dipakai disinfektan (mengikuti protokol kesehatan yang ketat).

Selama saya isolasi mandiri, saya masih mengkonsumsi obat Rumah Sakit (hylo quin, Zinc, Vitamin C dan Vitamin D). Selain itu saya juga mengkonsumsi obat-obat pemberian kawan mulai dari madu, curcuma pro bioherba, biometa, dan yang paling penting adalah Tolak Angin.

Saya merasa minum Tolak Angin ini sangat berefek betul ke tubuh saya (bukan bermaksud promosi). Hal itu karena semenjak saya dirawat di Rumah Sakit sampai sekarang itu masih saya konsumsi rutin 4x sahari.

Selama isolasi mandiri itu alhamdulillah saya bisa mendengar suara anak dan istri. Ini yang memberikan motivasi kuat buat saya untuk semakin berjuang agar kembali sehat dan pulih, walaupun masih belum bisa bersentuhan langsung.

Akhirnya berkat taufiq dari Allah SWT pada tanggal 14 Agustus hasil labor keluar yang menyatakan bahwa secara medis saya dinyatakan SEMBUH dari Covid 19.

Saya betul-betul merasa mendapat nikmat terbesar dari Allah SWT, serasa mendapatkan anugerah terindah yang selama 1 bulan penuh saya perjuangankan dan ternyata semuanya itu tidak sia-sia.

Semoga kisah nyata ini bisa memberikan motivasi kepada siapa saja yang sedang berjuang melawan covid 19 hari ini dan Kita sama-sama bertekad agar situasi yang sulit ini segera berakhir, Amin.

Simak juga Tausiah Yogi Imam Perdana, Lc, M.Ag di Youtube;

 

Facebook Comments

loading...