Trip Report MPM Legowo Bandung-Solok (2), Ada Dia Diantara Legowo dan Kota Budaya

Trip Report MPM Legowo Bandung-Solok (1), Ada Dia Diantara Legowo dan Kota Budaya
SuhaNews – Di terminal Pulo Gebang, bus MPM Legowo tak berhenti lama, hanya menaikan beberapa penumpang. Disempatkan melayangkan pandangan ke sekeliling terminal, dan memang sepi.

Dalam percakapan dengan Bang Alex, disebutnya penumpang lebih cenderung memilih terminal Kampung Rambutan atau Pondok Pinang dibanding harus ke sini yang terbilang jauh dari pusat ibu kota.

Apalagi sekarang, semua perusahaan bus mau menjemput penumpang sampai ke terminal di pelosok Jakarta dan Tangerang, sebut saja Pondok Pinang dan Kreo hingga Jati Jajar Depok dan Baranang Siang kota Bogor. Selain ke terminal  kalideres dan Poris Tangerang.

Pukul 10.40 WIB bus MPM Legowo yang dikemudikan Bang Alex bergerak dari jalur keberangkatan Terminal Pulo Gebang dan berangkat meninggalkan terminal. Di pintu keluar menuju tol, tampak bus MPM Patikawa juga masuk terminal.

MPM Legowo masuk tol JORR menuju Pondok Pinang di Jakarta Selatan. Siang itu arus lalu lintas lumayan padat, pergerakan kendaraan cukup lambat.

Dijalur berbeda terlihat juga beberapa bus asal Jawa Barat seperti Setia Negara, Luragung dan Bhineka. Sementara arus sebaliknya terlihat lancar.

Macet ini lumayan lama, sehingga bus MPM baru sampai di Pondok Pinang pukul 13.00 WIB. Setelah keluar tol, bus melaju dengan lancar melewati jalan menuju terminal.

Dipertigaan, terlihat beberapa bus tujuan berbagai kota di Jawa sedang parkir. Penulis dari dalam bus mencermati lokasi yang sering di pakai Pak De Agus, salah satu bismania yang sering hunting di sekitaran Pondok Pinang ini.

Ada satu hal menarik dari penumpang dalam perjalanan kali ini. Yaitu seorang ibu-ibu yang naik di Sadang Purwakarta. Semenjak duduk dalam bus hingga ke Pondok Pinang, ia tak henti-hentinya membagikan pengalamannya naik bus MPM Legowo ini kepada anak-anak dan saudaranya baik dengan telpon maupun video call.

Dari percakapannya, baru kali ini ia merasakan naik bus pulang kampung. Biasanya naik pesawat atau kendaraan pribadi. Namun ia mengatakan tak rugi dan tak kecewa naik bus ini, karena cukup nyaman, lapang dan kru juga ramah. Ia mengatakan beda dengan bus Sumbar Jakarta tahun 80an awal ia merantau dahulu, selain sempit, tanpa AC dan penumpang penuh sesak.

Terlihat juga dalam video callnya, ia memutar handphonenya memperlihatkan suasana bus sembari mengulas kalau bus bersih dengan fasilitas lengkap sampai dua LCD yang ada didepan.

Memang sejak berangkat dari Bandung, Kaliang yang bertugas sebagai crew menyalakan LCD dengan memutar lagu-lagu Minang dari Audio bus. Jadi tak berlebihan jika ibu mengatakan MPM Legowo full musik selama perjalanan.

BACA JUGA  Penggiat Kampung Tangguh IX Korong Bantu Korban Banjir Kota Solok

Tak lama di terminal Pondok Pinang, bus kembali berangkat pukul 13.05 WIB. Disini walau terminal kecil banyak juga disinggahi bus-bus premium hingga suite class tujuan berbagai kota di pulau Jawa.

Saat MPM Legowo masuk terminal, di dalam sudah ada beberapa bus lain seperti Sudiro Tungga Jaya hingga Pandawa 87 herbie edition berboby Jetbus3+ menggendong mesin Volvo B11R yang berkekuatan 430 HP. Meski liverynya simpel, tak mengurangi kesan mewah bus ini. Diluar terminal, juga Kramat Djati yang sebagian bismania menyebutnya Mbak KD juga menaikan penumpang.

Dari Pondok Pinang, MPM Legowo kembali masuk tol, di gerbang tol Meruya Utara 4 pukul 13.20 WIB. Bang Alex mulai memacu laju busnya di jalur Jakarta – Merak ini.

Di gerbang tol Meruya, naik pedagang asongan, seorang wanita menjajakan jagung goreng dan kacang polong dan permen yang dikemas seharga dua ribu riupiah. Cara menawarkan dagangannya dengan menarok kacang dan permen pada masing-masing penumpang, tak ada nada memaksa, ia hanya berharap ada yang berminat dengan cemilan yang ditawarkan berupa, jagung, kacang dan permen dengan harga yang murah. Hingga ia turun di kawan Tangerang, lumayan banyak juga dagangan yang dubeli oleh penumpang.

Di kilometer 84 Jakarta-Merak, berpapasan dengan 3 unit ANS dan 2 unit NPM dari Sumbar. Terlihat kelimanya beriringan, terdengar pula klaksonnya bersahutan dengan telolet MPM Legowo yang dipencet Bang Alex.

MPM Legowo keluar di gerbang tol Merak pukul 14.38 WIB dan menuju rumah makan Karya Baru. Penulis dan penumpang lain bergegas turun, karena sudah terlambat makan siang dari waktu biasanya.

Tak lama kemudian disusul oleh MPM GoodBoy yang berangkat dari Bogor. Selang beberapa waktu kemudian disusul oleh MPM Kota Budaya yang star dari Bekasi. Terakhir baru MPM Patikawa yang paginya sama berangkat dari Bandung.

Saat di rumah makan inilah didapat kabar, kalau penyeberangan sore itu sedikit tersendat karena angin lumayan kencang, jadi tidak banyak kapal yang berlayar, termasuk kapal eksekutif atau kapal cepat.

Pukul 15.15 WIB MPM Legowo kembali melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan. Jelang ke pelabuhan menyempatkan mengisi solar terlebih dahulu. Solar yang tadi diisi di rest area Bandung dipindah ke derigen, untuk menghemat susahnya solar di Sumatera khususnya Sumbar.

Solar tak hanya susah di Sumbar, buktinya baru pada SPBU ketiga yang di singgahi di kawasan Merak ini MPM Legowo bisa mengantri. Antrian disusul oleh satu Arimbi berbody Jetliner namun sudah dirombak, ada juga Sari Mustika dengan warna krem coklat memakai body Travego Morodadi.

BACA JUGA  Dukung Keterbukaan Informasi, FJKIP Sumatera Barat Akan Gelar Workshop

Selesai mengisi solar, MPM Legowo kembali melanjutkan perjalan menuju pelabuhan Merak, jelang perlintasan kereta api, bertemu dengan satu ANS body grand tourismo (plat nomor tidak terlihat, sepertinya seri awal regenerasi bus ANS) yang baru keluar kapal.

Seperti biasa, walau beda perusahaan kedua pengemudi saling sapa dan berbagi informasi di jalan. Obrolan singkat ini ditutup dengan saling klakson dan lambaian tangan. MPM Legowo terus melaju melewati rumah makan Rajawali yang sekarang sudah dipagar tembok dan dipasang merk dijual.

Rumah Makan Rajawali merupakan salah satu tempat perhentian bus Sumbar dulunya, diantaranya NPM dan ANS. Namun sejak pemiliknya meninggal rumah makan ini ditutup. Dulu ini perhentian terakhir sebelum masuk Jakarta atau yang pertama kalau berangkat dari Jakarta menuju Sumbar.

Seperti halnya rumah makan Umega di Gunung Medan, penikmat jalur darat Sumbar – Jawa punya kenangan dengan rumah makan ini.

Di pintu masuk pelabuhan, ada pemeriksaan kesehatan bagi penumpang, namun itu tidak seluruhnya, hanya sampelnya aja diminta lima buah KTP untuk didata. Tidak seketat saat hendak menyeberang dari Sumatera ke Jawa.

Usai pemeriksaan, MPM Legowo melaju masuk area pelabuhan. Bang Alex mendekati dermaga eksekutif, namun tak ada aktivitas disana, akhirnya bus membelok memasuki area dermaga 1 yang masih sepi pukul 15.30 WIB.

Jadilah MPM Legowo berada di barisan terdepan, berhadapan dengan pintu keluar kapal. Disusul sebuah trinton disebalah kanan kemudian datang MPM Kota Budaya yang beriringan dengan MPM Patikawa dan MPM Good Boy. Empat bersaudara ini beriringan di jalur tunggu.

Kapal yang akan membawa MPM bersaudara ini masih belum datang, makin lama barisan kendaraan di jalur tunggu juga tambah banyak. Penulis sempatkan turun mengamati area dermaga 1 pelabuhan Merak ini. Berdiri ditepi dermaga petang itu, terasa angin laut lumayan kencang.

Tak lama kemudian datang kapal ferry warna putih bercorak hijau mendekati dermaga 1, kapal sebesar itu pun masih terombang ambing oleh angin, penumpang maupun awak kendaraan yang melihat proses sandar deg-degan juga, karena kapal terlihat bergoyang kuat hingga jangkar terpasang maksimal.

Pintu kapal terbuka perlahan, hingga satu persatu kendaraan keluar dari lambung kapal. Tak banyak bus dari Sumbar, karena sejak di KM Tol Jakarta – Merak telah belasan bus Sumbar berselisih dengan MPM Legowo.

Hanya satu bus asal Sumbar yang keluar kapal, yakni Gumarang Jaya dengan merk topi depan Putra kembar body SR2 dari karoseri Laksana, sama dengan body MPM Legowo. Kedipan lampu depan sebagai sapaan pun diberikan oleh pengemudi bus urang awak yang bermarkas di Bandar Lampung ini. Yang menarik, ada dua Scania yang juga ikut berlayar dari Bakauheni menuju Merak sore itu, namun beda wujud.

BACA JUGA  Bupati Andri Warman Jadi Penguji Disertasi Mahasiswa Doktoral Unand

Scania pertama adalah bus SAN asal Bengkulu hendak menuju Jogja dan sekitarnya,berwaran silver dengan livery pohon kelapanya, terlihat penumpangnya full seat. Disusul oleh Trailer Scania dalam keadaan kosong, kabin trailer produksi Swedia ini bergoyang dan seperti sedang triping akibat goyangan kapal dan jembatan keluar dari kapal.

Satu persatu, kendaraan terus keluar hingga MPM Legowo dan kendaraan lainnya diprsilahkan masuk. Bang Alex telah siap dibelakang kemudi menunggu aba-aba dari petugas. Kota Budaya dipegang sopir dua, Bang Boy sang artis MPM terlihat nyantai di jalur masuk kapal.

MPM Legowo masuk kapal pukul 16.54, berada di urutan keempat, beberapa mobil diberi kesempatan lebih dulu oleh petugas. Dengan tenang dan hati-hati Bang Alex membawa busnya masuk lambung kapal Suki2. Penulis yang mengabadikan momen ini juga mendapat sapaan hangat lambaian tangah dari Bang Boy dan Kapten MPM Badboy yang sama berdiri di jalur masuk kapal.

Di kapal, penumpang dipersilahkan naik ke deck atas untuk beristirahat, menikmati suasana selat Sunda dan memandang sudut pulau Jawa sebelum berlayar menuju Sumatera.

Kapal Suki 2 yang dinaiki MPM Legowo dan 3 saudaranya ini lumayan lengkap dan bersih, musala ada dilantai 4. Penumpang yang belum salat Ashar segera menuju lantai 4 untuk menjalan kewajiban. Di ruang musala juga tersedia kompas penunjuk arah kiblat. Begitu juga dengan ruang istirahat penumpang maupun kantin juga bersih sehingga nyaman bagi penmumpang yang ingin berbelanja.

Bersambung

Artikel TErkait :

Facebook Comments

loading...
Artikel sebelumyaPadang Pariaman Gelar Festival Baju Kuruang Basiba di TMII Jakarta
Artikel berikutnyaKolom; Permasalahan Dalam Evaluasi Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19