Menjemput Rindu, Perjalanan Lhokseumawe – Solok yang Tak Terlupakan

Perjalanan pulang selalu menyimpan ruang tersendiri di dalam dada, terlebih ketika masa libur kuliah telah tiba. Malam itu, 3 Agustus, saya bersiap meninggalkan Lhokseumawe. Di atas lembar tiket bus Putra Pelangi yang saya genggam, tertera jadwal keberangkatan pukul 20.00 WIB. Namun, seperti ritme perjalanan darat Sumatera yang penuh teka-teki, armada bus baru menampakkan wujudnya di tempat yang saya nanti di pinggir jalan pada pukul 23.04 WIB. Menunggu lebih dari satu jam di tengah malam biasanya menyiksa.

Namun malam itu rasa bosan dan lelah tak sempat mampir karena tiga sahabat saya—Fia, Reva, dan Naya—setia menemani setiap detik penantian. Ketika bus akhirnya merayap mendekat, langkah kaki saya bergerak menuju pintu bus diiringi kawalan hangat mereka. Sebelum kaki meniti tangga, kami berpelukan erat.

00602 bus putra pelangi b

​”Hati-hati di jalan, jaga barang baik-baik, kabari kami terus, dan jangan lupa oleh-olehnya ya!” ujar Fia, Reva, dan Naya penuh perhatian. Salam pamit itu dipeluk hangat oleh kesadaran bahwa kami tidak akan bertatap muka selama masa liburan.

​Begitu duduk di kursi penumpang, rasa lelah menyergap dan saya menghabiskan sebagian besar perjalanan malam dengan tertidur lelap. Pagi harinya, 4 Agustus pukul 10.13 WIB, armada Putra Pelangi merapat di loket bus Kota Medan. Saya bergegas mengambil barang bawaan dari bagasi bawah dan mencari teman kuliah yang memiliki arah tujuan pulang yang sama.

Kami menyimpan barang-barang di area istirahat loket, lalu menyempatkan diri mencari sarapan di sekitar terminal. Usai menyantap hidangan hangat, sekitar pukul 10.00 WIB kami mengganti tiket untuk rute Medan menuju Padang. Tepat pukul 10.27 WIB barang-barang kembali dimuat ke bagasi, dan sebelum jam 11.00 WIB, roda bus mulai berputar meninggalkan terminal.

BACA JUGA  Kemenag Kota Bukittinggi Gelar Pembinaan Pokja Kampung Moderasi

​Perjalanan Medan–Padang dengn bus Putra Pelangi menjadi ruang bertukar cerita. Kami berbincang hangat tentang bagaimana dinamika kuliah yang telah kami jalani. Di tengah jalan, kami juga berkenalan dengan salah satu penumpang ramah yang hendak pulang ke Payakumbuh. Percakapan berlangsung seru; jika rasa lelah datang, kami mengalihkan perhatian dengan bermain ponsel atau tertidur lelap. Sekitar pukul 15.00 WIB, bus berhenti untuk makan siang dan kembali menembus aspal pada pukul 16.07 WIB.

baca juga : 

​Namun, perjalanan jarak jauh jarang sekali mulus tanpa hambatan. Dini hari sekitar pukul 02.17 WIB, tepat sebelum memasuki gerbang tol Pekanbaru, ban bus Putra Pelangi yang kami tumpangi mengalami kebocoran. Di tengah proses perbaikan oleh sopir dan kenek, saya memilih untuk tetap tidur di dalam kabin hingga perbaikan selesai bertepatan dengan berkumandangnya azan Subuh.

Ujian ternyata belum berakhir. Setelah perbaikan, bus tidak berhenti makan lagi sampai loket Bukittinggi. Di tengah rute, bus justru kekurangan bahan bakar. Celakanya, setiap SPBU Pertamina yang kami jumpai mengalami kelangkaan pasokan atau memiliki antrian kendaraan yang mengular panjang. Sopir dan kenek pun berinisiatif berburu minyak eceran di pinggir jalan. Karena serangkaian kendala ini, kami yang seharusnya tiba pukul 12.00 siang, baru berhasil menjejakkan kaki di terminal Bukittinggi pada pukul 17.00 WIB tanggal 5 Agustus.

BACA JUGA  Pasukan Orange Bawa 255 Jemaah Haji Kota Bukittinggi Menuju Embarkasi Padang

00602 bus putra pelangi c

​Sesampainya di loket Bukittinggi dan usai membongkar bagasi, rencana awal kami untuk mencari makan bersama harus batal karena mobil lanjutan yang akan dinaiki teman saya langsung berangkat. Sebelum berpisah, kami berpamitan penuh kehangatan.

“Semoga salamek sampai rumah, jan lupo bakaba yo!” ujar Najwa melambaikan tangan.

Saya pun melangkah menuju bus Jasa Malindo tujuan Solok. Karena mobil tidak langsung berangkat, saya memanfaatkan waktu untuk mencari makan nasi, sebab sejak pagi perut saya hanya diganjal oleh camilan seadanya di dalam bus.

​Pukul 18.04 WIB, bus Jasa Malindo mulai bergerak perlahan merayap jalanan mencari penumpang tersisa. Begitu memasuki kawasan yang sepi dan jalanan lengang, sang sopir tancap gas memacu kecepatannya. Singkat cerita, pada pukul 20.32 WIB, saya akhirnya tiba di Kota Solok. Di sana, abang saya sudah menunggu dengan sepeda motor, dan pada pukul 21.07 WIB, roda motor berhenti tepat di halaman rumah.

​Perjalanan panjang menembus tiga provinsi selama bermalam-malam tentu menyisakan rasa pegal dan lelah yang luar biasa pada tubuh. Namun, sungguh ajaib bagaimana batas pintu rumah bekerja. Begitu daun pintu terbuka dan wajah Ayah serta Ibu menyambut di ambang pintu, seluruh rasa capek, letih, dan kantuk yang menumpuk seketika luntur dan hilang tanpa sisa.

Malam itu, bukannya langsung beristirahat di kamar, saya justru duduk melingkar di ruang tamu bersama Ayah dan Ibu. Dengan antusias, saya menceritakan setiap detail petualangan mulai dari bus yang terlambat di Lhokseumawe, kehangatan pelukan sahabat, drama ban bocor menjelang tol Pekanbaru, hingga perburuan BBM eceran di pinggir jalan.

Pada akhirnya, perjalanan pulang bukan sekadar tentang seberapa jauh jarak yang kita tempuh atau seberapa banyak kendala yang kita hadapi di sepanjang jalanan Sumatera. Perjalanan adalah tentang bagaimana setiap peluh, penantian, dan keletihan itu menjelma menjadi kisah hangat yang paling indah saat diceritakan kembali di pelukan rumah.

BACA JUGA  Raih Berbagai Prestasi, Kakan Kemenag Bukittinggi Apresiasi ASN dan Siswa Madrasah

Irma Ratna Sari, mahasiswi Universitas Malikussaleh kabupaten Aceh Utara asal Siaro-Aro, IX Koto Sungai Lasi Kab. Solok

Baca juga :

Facebook Comments

Google News