Marawa Tagak Dirantau, Tangis Pilu Tek Siti di Bulan April

Marawa Tagak Dirantau

cerpen : Fendi Moentjak

Semua yang ada dirumah gadang terdiam, tak ada kata hanya saling tanya lewat tatapan mata yang dijawab kernyitan dahi dan gelengan kepala. Ditengah rumah Tek Siti duduk bersandar ke tiang rumah gadang dengan tatapan kosong. Di beranda Rajo Intan bersama beberapa lelaki Mamak Rumahnya juga saling diam.

Tungku di kajang yang sejak subuh tadi tak berhenti mengebulkan asap kini juga mulai padam, beberapa puntung masih membara walau tak lagi dibawah kuali yang diasapinya. Sementara para wanita yang sejak tadi memasak berbagai makanan kini berkumpul dihadapan Tek Siti yang masih nanar dalam tangisnya.

“Malang benar nasibmu nak…”

“Apa yang salah denganmu anak bujangku”

“Karma siapa yang kau terima oi nak kandung sibiram tulang..”

Kalimat lirih itu tak ada yang menjawab, beberapa perempuan yang sejak tadi terpaku menahan haru melihat Tek Siti kini juga terisak.

“Dulu kesetiaanmu diungkai saat kau tunjukan tekadmu, kini saat kau hendak sampai dipucuk batangpun diambil orang”. Ratapan Tek Siti makin menjadi.

“Dimana Habibi ?”

Rajo Intan memecah lamunan para lekaki yang sejak tadi ikut larut di beranda. Mak Uncu yang menemaninya bergerak turun tanpa menyahut.

Dikamar pada bangunan permanen dibelakang rumah gadang, Habibi kondisinya tak jauh beda dengan Tek Siti ibunya dan Rajo Intan sang Ayah. Walau berusaha tegar namun diwajahnya terlihat aura keputus asaan. Tak ada pancaran harapan dimatanya. Stelan jas masih tergantung dipintu lemari, sepasang sepatu kulit dan kaos kaki juga teronggok dibawahnya.

“Ayahmu memanggil”

Sapaan datar mak Uncu hanya dijawab gerakan lamban Habibi menuju beranda rumah gadang.

“Yang sabar ya nak, perbanyak istigfar, kita tidak tahu rencana Allah dibalik kejadian ini”. Rajo Intan memeluk Habibi memberikan dukungan.

“Belum jadi kambang Baju Gadang itu nak, masih kan tersimpan juga Saluak Pusako kita” Tek Siti yang sejak tadi tak henti meratapi nasib anaknya menghambur kepelukan ayah dan anak itu yang membuat duka di rumah gadang makin terasa.

Sejak sebulan terakhir rumah gadang Tek Siti mulai terlihat sibuk, berawal dari datangnya Datuak Palito dan rombongan mewakili keluarga Pakiah Basa dari nagari Tanjung untuk meminang Habibi sebagai suami bagi Fatima anak gadis Pakiah Basa. Disini rangkaian adatpun bermulai, kedua belah pihak dengan ninik mamaknya pun bersiap untuk sebuah helat bagi kemenakan mereka.

Didapatlah kata sepakat sebagai hari jadi pernikahan Habibi dan Fatima lengkap dengan prosesi adat bagi keduanya. Lebih istimewa lagi bagi Tek Siti, karena selain menggelar pesta untuk anaknya juga akan melakukan prosesi batagak gala bagi Habibi sebagai Mamak dalam kaumnya.

Hari ini disepakati sebagai hari akad nikah dirumah mempelai wanita di nagari Tanjung yang dalam kesepatan dan lazimnya adat minang, marapulai akan dijemput oleh utusan anak daro dan Habibi sebagai Marapulai akan dilepas dengan prosesi adat di Rumah Gadang.

BACA JUGA  Ota Lapau, Mati Tak Makan Dek Indak Ado Ayang

Namun saat semua bersiap menjelang waktu bahagia ini, ketika para Mamak menyiapkan pakaian kebesaran bagi Habibi, para Mande merapikan rumah dengan kelengkapan yang digariskan dalam adat serta sebagian amai menyiapkan makanan yang akan disajikan datang kabar duka yang juga petaka

“Hari ini tak ada pernikahan, ijab qabul Habibi dan Fatima tidak akan dilaksanakan, karena kemenakan kami Fatima sakit”. Begitu kata disampaikan lelaki yang mengaku utusan kekuarga Pakiah Basa.

“Maaf juga angku-angku sekalian, ini kain adat tanda ikatan kami kembalikan dan kami akan menghotmati adat yang berlaku disini sebagai konsekuensi dari keputusan keluarga kami”. Begitu lelaki itu menguatkan pesan yang dibawanya.

Habibi yang tengah mempersiapkan diri menuju pernikahannya ambruk seketika saat kabar ini diterimanya. Rumah gadang yang semula gembira berubah muram, hingga kini lewat tengah hari dan hampir empat jam sejak kejadian buncah, duka masih terasa. Mamak-mamak dari Tek Siti mulai bertindak dengan mengirim pula utusan kepada keluarga Pakiah Basa yang hasilnya tetap pada pembatalan nikah, walau disana mereka juga sudah mempersiapkan alek untuk kemenakan mereka Fatima.

Hingga Isya suasana belum berubah, Habibi yang sejak kejadian tadi pagi terus mencoba menghubungi Fatima, walau tak pernah tersambung. Habibi ingin tahu alasan sebenarnya dibalik pembatalan ini, ia yakin kesehatan bukan alasan sebenarnya karena hingga dini hari tadi mereka masih chating seraya mereka-reka prosesi sakral yang akan terjadi. Bahkan saat subuh menjelang seperti biasa Fatima masih membangunkannya lewat miscall dan sms yang membuat ia makin tak percaya.

Menjelang tengah malam ia tersambung dengan handphone Fatima namun tak diangkat. Tak lama kemudian masuk sms yang mengatakan kalau ia juga kecewa dengan pembatalan nikah ini, putus asa dengan keputusan keluarga seraya menegaskan kalau ia baik baik saja dan tak sakit apapun. Berbalas sms berlanjut hingga Fatima mengatakan kalau pembatalan ini adalah tekanan dan keputusan dari mamaknya yang biasa disapa Om Win.

“Om Win tak mengkehendaki kita menikah, ia siap menanggung segala resiko dari ketegasannya ini dan besok aku akan diantarkan oleh adiknya Om Zal ke Jakarta”

“Habibi, aku masih mencintaimu. Tapi bagaimana ?”

Setelah kalimat terakhir itu smspun tak lagi dibalas, banyak pesan Habibi yang tak terkirim di Hpnya. Hingga pagi menjelang matanya belum terpejam karena puluhanan tanya belum mendapat jawaban. Keluarga dan kawan-kawannya tak tinggal diam, hingga dari penelusuran mereka didapat berita kalau pagi ini Fatima sudah berangkat ke Bandara. Tak putus asa Habibi pun mengejarnya dengan harapan dapat bertemu, namun baru sampai di Sitinjau Lauik Fatima mengabarinya kalau ia sudah masuk ruang tunggu dan jadwal pesawatnya setengah jam kemudian.

BACA JUGA  Ota Lapau, Mareh Ang Ka Den

#  #  #

Dalam kalut pikirannya karena kejadian itu Habibi berusaha untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan seraya mengenang kesalahan yang kiranya harus berbayar duka ini. Mulai pertemuannya dengan Fatima dari antrian disebuah bank hingga kemudian terulang lagi ditoko HP, perkenalan pun berlanjut dengan pendekatan hingga menjadi penjajakan kearah hubungan yang lebih serius.

Habibi yang waktu itu masih belum pulih dari luka akibat ditinggal menikah pujaan hati yang telah mengisi hari-harinya selama enam tahun lebih, mencoba meyakinkan hati kalau Fatima bukanlah sama dengan Juita yang membuatnya kecewa walau kampung mereka masih bertetangga.

Dalam ia menata perasaan dan membangun kembali kepercayaan pada wanita, Fatima mampu memberinya perhatian dan dukungan bagi kehidupannya. Dengan sikap dan sifat keibuannya putri Pakiah Basa ini menata kembali hati yang terkoyak dan asa yang pupus dari seorang Habibi.

“Kemana hubungan ini akan dibawa, kita bukan lagi anak SMA yang menjadikan pacaran sebagai selingan diantara tumpukan pelajaran”. Habibi menanya Fatima kala mereka janjian disuatu sore sepulang kerja.

“Kenapa begitu, apakah kau belum yakin dengan sikap dan rasaku ?”

“Ya, karena aku belum terlalu yakin denganmu, setahun silam aku terluka oleh orang kampungmu, demi seragam dinas itu aku ditinggalkannya dan melupakan kata yang terucap selama enam tahun lebih”.

“Aku bukan dia, rasaku pun bukan dihatinya, sekarang aku ikuti maumu. Kalau kau bawa aku dibidukmu, akan kujaga dayungan hati berlayar bersamamu, seandainya niatmu menghalalkanku, aku ikuti kau sebagai Imamku” Jawab Fatima mantap.

“Bagaimana dengan Mama Papamu, aku tak ingin lagi citaku kandas berdalih restu orangtua”.

“Mama dan Papaku tak pernah menentukan siapa jodohku, mereka terbuka sepanjang aku cinta dan orangnya bukanlah yang tercela karena agama, kalau kau tak percaya hari inipun aku pertemukan kau dengan keduanya”. Jawaban Fatima membuat Habibi semakin mantap menentukan pelabuhan hatinya.

Sore itu juga Habibi dan Fatima menemui Mama dan Papanya dan menyampaikan rencana masa depan mereka yang mendapat respon positif. Sejak itulah semangat hidup Habibi kembali bangkit. Tak sampai lima bulan pacaran, merekapun mengambil keputusan menikah.

#  #  #

Hari ini tepat seminggu kejadian Habibi dan Fatima, telah banyak fakta yang didapat dan puluhan info yang terkumpul hingga mengarah pada satu kesimpulan yakni yang membatalkan pernikahan Habibi dan Fatima adalah Erwin si Mamak jauh dari Fatima yang menginginkan Fatima berjodoh dengan adik iparnya. Namun Fatima yang cintanya telah melekat pada Habibi bersikeras dengan prinsipnya hingga Erwin yang selalu dengan bangga meminta kemenakannya memanggil “Om” mengambil keputusan tragis ini. Dan telah seminggu pula Fatima berada di Jakarta dirumah Mak Buyung yang merupakan adik kandung mamanya.

BACA JUGA  Ota Lapau, Politik Panjek Pinang

Sebagai bukti cintanya, Fatima selalu menjalin komunikasi dengan Habibi lewat telpon, sms dan chating. Selama itu pula Fatima meyakinkan Mak buyung kalau Habibi adalah lelaki terbaik pilihannya seraya berharap Mak Buyung dengan kekuasaannya dalam kaum dapat membatalkan keputusan om Erwin yang selain melukai hati Fatima juga mempermalukan keluarga.

Dipihak Habibi, ia selalu mendapat dukungan dari ayah bundanya. Rajo intan selalu mengingatkan agar makin mendekatkan diri dengan Allah atas cobaan ini.

“Ibarat sungai, kejadian ini adalah muara dimasa mudamu yang kalau kau bisa menaklukannya kau akan siap menghadapi ganasnya samudra”. Begitu Rajo Intan menyemangati Habibi.

Untuk kedua kalinya Habibi meminta restu Ayah Bunda dan keluarganya untuk menjadikan Fatima sebagai pendamping hidupnya, kini setelah Fatima meyakinkan kalau ia masih berharap Habibi menjadi pendampingnya. Mendapat dukungan dan harapan ini Habibi mantap berangkat ke Jakarta menemui Fatima tepat seminggu semenjak kepergian Fatima.

Di Cengkareng Fatima menunggu Habibi, sempat dihantui rasa takut karena penerbangan delay satu jam lebih. Akhirnya merakapun bertemu dipintu kedatangan terminal tiga Soekarno Hatta. Keduanya larut dalam pelukan bak pasangan dalam film drama. Tapi bagi mereka perpisahan seminggu akibat tragedi minggu lalu lebih berat, keharuan ini pun bagai sinetron yang disaksikan ratusan pengunjung bandara.

Dua jam lebih Habibi dan Fatima membahas dan saling meyakinkan kalau keduanya masih saling cinta dan untuk kedua kalinya pula keduanya menyatakan tekad untuk hidup bersama. Habibi dengan bekal restu orang tua dan keluarga mendatangi Fatima ke Jakarta sementara Fatima yang berhasil meyakinkan Mak Buyungnya menjemput Habibi ke bandara. Tak ingin membuang waktu Fatima pun mempertemukan Habibi dengan mak Buyungnya.

Sebagai penerus Datuak Bungsu dalam keluarganya Habibi sejak kecil telah ditempa dengan sikap dan sifat lelaki Minang, Ayah dan Mamaknya selalu mengingatkan dan menerapkan itu.

Kini ketika kehidupannya bergolak ia pun dengan sikap lelaki minangnya menemui mak Buyung bahwa keluarga besarnya memaafkan kejadian kemarin dan ia bersama Fatima tetap melanjutkan rencana menikah meski pelaksanaannya harus di Jakarta dengan prosesi adat tetap sebagaimana biasa, semua keluarga ada mewakili. “Dikampung kain dilipek, dirantau marawa ditagakan”, begitu kebulatan tekad Habibi didepan mak Buyung dan Fatima.

Mengenang 12 Th Kopi Pahit Tak Berampas

Cerpen Fendi Moentjak lainnya :

 

Facebook Comments

Google News